Saya masih ingat sewaktu kecil, dalam
pelajaran budi pekerti (PPKn) sering sekali guru saya bertanya “anak-anak, apa
contoh sifat suka menolong?”. Serempak kami menjawab “ “Gotong royong membersihkan
jalan”, “menyeberangkan orang tua”, “tidak membuang sampah sembarangan”,
“saling menghormati antara pemeluk agama” dan masih banyak variasi jawaban lain
dari pertanyaan itu. Sedari kecil kita telah dikenalkan dengan segala macam
perbuatan yang termasuk dalam budi pekerti yang baik dan luhur. Lidah kita
telah fasih menjawab pertanyaan tersebut.
Waktu itu “menyeberangkan jalan” adalah salah
satu jawaban favorit saya. Bahkan sewaktu kecil saya sering berkhayal kalau menemukan orang tua
yang kesusahan untuk menyeberang. Saya pasti akan langsung membantunya. Begitu heroik
rasanya bisa membantu mereka yang sedang kesusahan. Mereka yang suka
menyeberangkan orang-orang di jalanan adalah perbuatan mulia menurut saya.
Kota yang semakin berkembang, kendaraan yang
semakin padat, jalan yang semakin lebar, membuat orang-orang semakin butuh “penyeberang
jalan”. Mereka yang berhati mulia rela menolong sesama, agar selamat
menyeberang.
Hari ini semakin banyak mereka yang
berprofesi sebagai “penyeberang jalan”. Namun ada yang berbeda, nampaknya hari
ini para “penyeberang jalan” tidak lagi Nampak gagah dan heroik seperti
anggapan masa kecil saya. Menyeberangkan jalan pun lebih kelihatan seperti
pemalakan berkedok membantu. Terkadang para “penyeberang jalan” ini terlihat
tidak puas apabila yang diseberangkan tidak memberi tip ala kadarnya.
Mereka adalah orang-orang yang hidup dari
kemacetan dan kendaraan yang semakin padat dan laju serta tidak sabar.
Kemacetan lebih sering terjadi sekarang, pelebaran jalan sepertinya tidak
menyelesaikan masalah. Orang-orang semakin laju dalam berkendara, mereka
berprinsip siapa cepat dia lewat. Jalanan bukan lagi menjadi tempat yang
memiliki aturan tapi lebih sebagai arena berebut tempat. Tidak ada lagi prinsip
saling mappakatabe*. Hal ini
dimanfaatkan para “penyeberang jalan” untuk mendapatkan tambahan uang. Bahkan
tidak jarang malah dijadikan pekerjaan.
Alhasil, Para “penyeberang jalan” bermunculan
di sudut-sudut jalan di makassar. Mereka tumbuh subur. Dengan harapan
mendapatkan uang dari berdiri dan berteriak “maju”,”kiri”,”kiri” sepanjang hari,
dan bantuan sedikit kemacetan. Hal inipun dimanfaatkan mereka yang ingin
menyeberang. Mereka begitu memuja kecepatan sampai-sampai menyeberang pun ingin
cepat-cepat. Maka, saling membuthkanlah para pengendara dan para “penyeberang
jalan” ini. Yang satu ingin cepat-cepat dan yang lain ingin uang cepat.
Bagi saya sendiri hal ini membuat saya
terpaksa meredefinisi kembali “menyeberangkan jalan” sebagai perbuatan baik dalam
kamus daftar perbuatan-perbuatan baik saya. Perbuatan tersebut terpaksa harus
saya pindahkan ke dalam bagian “pekerjaan”.
Selasa, 23 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar