Sejak zaman Sapardi ke Gibran sampai ke Neruda atau bahkan jauh
sebelum itu orang-orang gemar sekali tenggelam dalam euphoria perayaan cinta. Cinta
adalah sumur yang tidak akan kering walaupun sudah terlalu sering digali oleh
banyak orang. M Aan Mansyur sejauh menyatakan Jatuh cinta dan mencintai adalah dua bentuk penderitaan yang berbeda.
Dalam puisinya Melihat Api Bekerja, Aan
menggangap orang-orang dengan mudah sekali dan sering sekali mengumbar cinta
seolah itu murah sekali tanpa mengerti bahwa jatuh cinta atau mencintai lebih
sering mendatangkan derita.
Sejak penemuan kertas dan mesin cetak yang
memiliki dampak luar biasa bagi perkembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan
dan informasi. Internet dan social media adalah penemuan besar berikutnya.
Melalui itu orang-orang terhubung, saling mengenal, walaupun di tempat yang
paling berjauhan. Cinta pun tidak berhenti di situ. Cinta juga berkembang
mengikuti zaman. Cinta berdaptasi dan berevolusi, dia menyebar seperti epidemic
yang bahkan orang-orang enggan mencari obatnya. Secara mudah, cinta menyebar
melalui sosial media dan internet. Cinta dibicarakan di mana-mana.
Seiring dengan itu sekarang adalah masa
dimana penyair dan penulis adalah mereka yang dicintai. Bukan lagi zamannya
Pram atau Chairil, ketika penyair bersuara mereka akan ditangkap atau
diasingkan. Penyair dipuja di mana-mana. Orang-orang semakin hari semakin
mengidolakan penyair-penulis. Pada akhirnya semakin banyak orang yang ingin
menjadi penyair atau penulis. Kedua hal ini membuat puisi-puisi cinta
bertebaran dimana-dimana. Semua orang membicarakan cinta.
Timbul pertanyaan, apakah generasi kita
membuat cinta tidak agung lagi? Apakah kita telah mengeringkan sumur cinta dan
mengisap semua sari patinya? Apakah kekudusan cinta telah ternoda? Mereka yang
mengatakan iya mungkin menganggap cinta sekarang menjadi barang jualan yang tidak
seagung dulu. Harga cinta telah turun drastis karena terlalu sering
dikomersialisai. Mereka menyebut cinta murah dan menyebut mereka yang membahas
cinta murahan.
Respon untuk pertanyaan diatas, mengapa hak untuk
mencinta secara eksklusif hanya ada kepada mereka yang lahir sebelum generasi
ini. Generasi ini barangkali adalah generasi yang memang sial karena segala hal
mungkin telah habis dituliskan. Tidak ada lagi yang tidak pernah ditulis.
Tetapi hak untuk menulis, apa yang ingin ditulis, dan bagaimana menulisnya juga
dimiliki generasi ini. Cinta juga sudah ada didalam hak itu.
Hak untuk jatuh cinta, mencintai, serta
membahas tentang cinta adalah hak semua orang. Walaupun sebelumya puisi-puisi
cinta sudah banyak sekali diterbitkan lalu dicetak ulang, dituliskan lalu
dibacakan, tetapi kita masih sering terpesona dengan barisan larik-larik cinta
baru, lagu-lagu cinta baru, bahkan oleh status
BBM atau Twitter orang lain yang membahas cinta. Hal ini membuktikan kita
belum muak terhadap cinta. Kita masih butuh cinta. Kita masih sering dibuat
bergidik, menangis, atau tersenyum oleh cinta dan mereka yang membahasnya.
Walaupun dalam ruh dan jiwa yang sama, tubuh cinta tidak perlu melulu sama.
Bagi yang ingin bercinta Aan mengingatkan bahwa jatuh cinta dan mencintai adalah dua bentuk penderitaan yang berbeda.
Selamat menderita dan Menulislah dengan cinta.
Sabtu, 03 Januari 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar