Sabtu, 03 Januari 2015

On the Defence of Love Commercialization

Sejak zaman Sapardi  ke Gibran sampai ke Neruda atau bahkan jauh sebelum itu orang-orang gemar sekali tenggelam dalam euphoria perayaan cinta. Cinta adalah sumur yang tidak akan kering walaupun sudah terlalu sering digali oleh banyak orang. M Aan Mansyur sejauh menyatakan Jatuh cinta dan mencintai adalah dua bentuk penderitaan yang berbeda. Dalam puisinya Melihat Api Bekerja, Aan menggangap orang-orang dengan mudah sekali dan sering sekali mengumbar cinta seolah itu murah sekali tanpa mengerti bahwa jatuh cinta atau mencintai lebih sering mendatangkan derita.  

Sejak penemuan kertas dan mesin cetak yang memiliki dampak luar biasa bagi perkembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan dan informasi. Internet dan social media adalah penemuan besar berikutnya. Melalui itu orang-orang terhubung, saling mengenal, walaupun di tempat yang paling berjauhan. Cinta pun tidak berhenti di situ. Cinta juga berkembang mengikuti zaman. Cinta berdaptasi dan berevolusi, dia menyebar seperti epidemic yang bahkan orang-orang enggan mencari obatnya. Secara mudah, cinta menyebar melalui sosial media dan internet. Cinta dibicarakan di mana-mana. 

Seiring dengan itu sekarang adalah masa dimana penyair dan penulis adalah mereka yang dicintai. Bukan lagi zamannya Pram atau Chairil, ketika penyair bersuara mereka akan ditangkap atau diasingkan. Penyair dipuja di mana-mana. Orang-orang semakin hari semakin mengidolakan penyair-penulis. Pada akhirnya semakin banyak orang yang ingin menjadi penyair atau penulis. Kedua hal ini membuat puisi-puisi cinta bertebaran dimana-dimana. Semua orang membicarakan cinta.  

Timbul pertanyaan, apakah generasi kita membuat cinta tidak agung lagi? Apakah kita telah mengeringkan sumur cinta dan mengisap semua sari patinya? Apakah kekudusan cinta telah ternoda? Mereka yang mengatakan iya mungkin menganggap cinta sekarang menjadi barang jualan yang tidak seagung dulu. Harga cinta telah turun drastis karena terlalu sering dikomersialisai. Mereka menyebut cinta murah dan menyebut mereka yang membahas cinta murahan. 

Respon untuk pertanyaan diatas, mengapa hak untuk mencinta secara eksklusif hanya ada kepada mereka yang lahir sebelum generasi ini. Generasi ini barangkali adalah generasi yang memang sial karena segala hal mungkin telah habis dituliskan. Tidak ada lagi yang tidak pernah ditulis. Tetapi hak untuk menulis, apa yang ingin ditulis, dan bagaimana menulisnya juga dimiliki generasi ini. Cinta juga sudah ada didalam hak itu. 

Hak untuk jatuh cinta, mencintai, serta membahas tentang cinta adalah hak semua orang. Walaupun sebelumya puisi-puisi cinta sudah banyak sekali diterbitkan lalu dicetak ulang, dituliskan lalu dibacakan, tetapi kita masih sering terpesona dengan barisan larik-larik cinta baru, lagu-lagu cinta baru, bahkan oleh status BBM atau Twitter orang lain yang membahas cinta. Hal ini membuktikan kita belum muak terhadap cinta. Kita masih butuh cinta. Kita masih sering dibuat bergidik, menangis, atau tersenyum oleh cinta dan mereka yang membahasnya. Walaupun dalam ruh dan jiwa yang sama, tubuh cinta tidak perlu melulu sama. Bagi yang ingin bercinta Aan mengingatkan bahwa jatuh cinta dan mencintai adalah dua bentuk penderitaan yang berbeda. Selamat menderita dan Menulislah dengan cinta. 

0 komentar:

Posting Komentar