Saya memilih untuk membaca Botchan karangan Natsume Soseki ini tidak
lebih karena pada saat saya meminjam buku ini, masih berdekatan dengan Hari
Pendidikan yang baru lewat beberapa hari sebelumnya, sebab buku ini katanya
menceritakan tentang seorang guru yang berusaha melawan “sistem” pendidikan
pada sebuah desa. Setelah akhirnya
terseok-seok dalam membacanya akibat kegiatan-kegiatan yang tidak terduga dan proses
penyelesaian studi yang cukup menyita waktu, tepat hari ini saya menyelesaikan
membacanya.
Botchan sendiri
memiliki popularitas yang sangat besar di jepang dan dianggap sebagai salah
karya sastra klasik paling populer, setara dengan huckleberry finn atau Oliver
Twist bagi pembaca barat (Saya sangat ingin membandingkannya dengan bacaan
dari Indonesia, hanya saja rasa-rasanya tidak ada karya Indonesia yang cukup popular
yang ditujukan untuk pembaca kanak-kanak semasa saya kecil). Alan Turney
penerjemah naskah botchan dari teks
aslinya kedalam bahasa inggris, mengatakan ada semacam perasaan nostalgia pada
kondisi jepang pada tahun 1800an dan keunikan karakter botchan yang membuat pembaca jepang sampai sekarang masih
menggemari buku ini.
Lebih jauh, Gaya penulisan botchan dapat saya katakan sangat “berterus
terang”. Penulis sama sekali tidak berusaha membangun kesan misterius untuk
membuat pembaca menebak bagaimana akhir kisah dalam buku ini. Tidak ada yang
berusaha disembunyikan. Semua disampaikan dengan apa adanya. Hal ini pun
berseusaian dengan karakter Botchan sendiri
yang merupakan orang yang sangat teguh pendirian dan kelewat polos dan jujur.
Sifat apa-adanya dan jujur inilah yang dikemudian hari akan mendatangkan permasalahan
padanya. Entah kenapa buku ini memberikan perasaan yang sama ketika saya membaca
Toto-chan.
Ketika kita, sebagai pembaca mengharapakan
akan adanya sebuah “masalah besar dan serius” mengenai pendidikan akan dibahas ketika
membaca back cover buku ini, hal
tersebut sama sekali tidak ada. Namun, kita justru menemukan sebuah permasalahan-permasalahan
kecil yang setiap hari kita temui. Terlebih lagi, bagi kawan-kawan pembaca yang
ingin menjadi guru nantinya. Sebuah pesan bahwa kita tidak bisa menilai seseorang
dari penampilan luarnya saja semakin kuat seiring saya bersama botchan mengenal
semakin dalam karakter-karakter yang ada di dalam cerita. Bahkan disebuah sekolah
menengah di sebuah desa, di atas sebuah pulau yang jauh dari hiruk-pikuk
perkotaan Tokyo, permainan politik dan saling menjatuhkan bisa saja terjadi.
Tulisan ini sebenarnya bermaksud memberikan
review, tetapi sepertinya saya sudah
membocorkan sedikit tentang botchan,serta
karakter-karakter yang ada di dalam cerita ini dan apa yang akan mereka alami. Oleh
karena itu, sekian. :P
Minggu, 07 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar