Minggu, 07 Desember 2014

Review : Botchan oleh Natsume Soseki

Saya memilih untuk membaca Botchan karangan Natsume Soseki ini tidak lebih karena pada saat saya meminjam buku ini, masih berdekatan dengan Hari Pendidikan yang baru lewat beberapa hari sebelumnya, sebab buku ini katanya menceritakan tentang seorang guru yang berusaha melawan “sistem” pendidikan pada sebuah desa.  Setelah akhirnya terseok-seok dalam membacanya akibat kegiatan-kegiatan yang tidak terduga dan proses penyelesaian studi yang cukup menyita waktu, tepat hari ini saya menyelesaikan membacanya. 

Botchan sendiri memiliki popularitas yang sangat besar di jepang dan dianggap sebagai salah karya sastra klasik paling populer, setara dengan huckleberry finn atau Oliver Twist bagi pembaca barat (Saya sangat ingin membandingkannya dengan bacaan dari Indonesia, hanya saja rasa-rasanya tidak ada karya Indonesia yang cukup popular yang ditujukan untuk pembaca kanak-kanak semasa saya kecil). Alan Turney penerjemah naskah botchan dari teks aslinya kedalam bahasa inggris, mengatakan ada semacam perasaan nostalgia pada kondisi jepang pada tahun 1800an dan keunikan karakter botchan yang membuat pembaca jepang sampai sekarang masih menggemari buku ini.

Lebih jauh, Gaya penulisan botchan dapat saya katakan sangat “berterus terang”. Penulis sama sekali tidak berusaha membangun kesan misterius untuk membuat pembaca menebak bagaimana akhir kisah dalam buku ini. Tidak ada yang berusaha disembunyikan. Semua disampaikan dengan apa adanya. Hal ini pun berseusaian dengan karakter Botchan sendiri yang merupakan orang yang sangat teguh pendirian dan kelewat polos dan jujur. Sifat apa-adanya dan jujur inilah yang dikemudian hari akan mendatangkan permasalahan padanya. Entah kenapa buku ini memberikan perasaan yang sama ketika saya membaca Toto-chan. 

Ketika kita, sebagai pembaca mengharapakan akan adanya sebuah “masalah besar dan serius” mengenai pendidikan akan dibahas ketika membaca back cover buku ini, hal tersebut sama sekali tidak ada. Namun, kita justru menemukan sebuah permasalahan-permasalahan kecil yang setiap hari kita temui. Terlebih lagi, bagi kawan-kawan pembaca yang ingin menjadi guru nantinya. Sebuah pesan bahwa kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilan luarnya saja semakin kuat seiring saya bersama botchan mengenal semakin dalam karakter-karakter yang ada di dalam cerita. Bahkan disebuah sekolah menengah di sebuah desa, di atas sebuah pulau yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan Tokyo, permainan politik dan saling menjatuhkan bisa saja  terjadi.

Tulisan ini sebenarnya bermaksud memberikan review, tetapi sepertinya saya sudah  membocorkan sedikit tentang botchan,serta karakter-karakter yang ada di dalam cerita ini dan apa yang akan mereka alami. Oleh karena itu, sekian. :P

0 komentar:

Posting Komentar