Selasa, 23 Desember 2014

Para Penyeberang Jalan

Saya masih ingat sewaktu kecil, dalam pelajaran budi pekerti (PPKn) sering sekali guru saya bertanya “anak-anak, apa contoh sifat suka menolong?”. Serempak kami menjawab “ “Gotong royong membersihkan jalan”, “menyeberangkan orang tua”, “tidak membuang sampah sembarangan”, “saling menghormati antara pemeluk agama” dan masih banyak variasi jawaban lain dari pertanyaan itu. Sedari kecil kita telah dikenalkan dengan segala macam perbuatan yang termasuk dalam budi pekerti yang baik dan luhur. Lidah kita telah fasih menjawab pertanyaan tersebut.

Waktu itu “menyeberangkan jalan” adalah salah satu jawaban favorit saya. Bahkan sewaktu kecil saya  sering berkhayal kalau menemukan orang tua yang kesusahan untuk menyeberang. Saya pasti akan langsung membantunya. Begitu heroik rasanya bisa membantu mereka yang sedang kesusahan. Mereka yang suka menyeberangkan orang-orang di jalanan adalah perbuatan mulia menurut saya.

Kota yang semakin berkembang, kendaraan yang semakin padat, jalan yang semakin lebar, membuat orang-orang semakin butuh “penyeberang jalan”. Mereka yang berhati mulia rela menolong sesama, agar selamat menyeberang. 

Hari ini semakin banyak mereka yang berprofesi sebagai “penyeberang jalan”. Namun ada yang berbeda, nampaknya hari ini para “penyeberang jalan” tidak lagi Nampak gagah dan heroik seperti anggapan masa kecil saya. Menyeberangkan jalan pun lebih kelihatan seperti pemalakan berkedok membantu. Terkadang para “penyeberang jalan” ini terlihat tidak puas apabila yang diseberangkan tidak memberi tip ala kadarnya.

Mereka adalah orang-orang yang hidup dari kemacetan dan kendaraan yang semakin padat dan laju serta tidak sabar. Kemacetan lebih sering terjadi sekarang, pelebaran jalan sepertinya tidak menyelesaikan masalah. Orang-orang semakin laju dalam berkendara, mereka berprinsip siapa cepat dia lewat. Jalanan bukan lagi menjadi tempat yang memiliki aturan tapi lebih sebagai arena berebut tempat. Tidak ada lagi prinsip saling mappakatabe*. Hal ini dimanfaatkan para “penyeberang jalan” untuk mendapatkan tambahan uang. Bahkan tidak jarang malah dijadikan pekerjaan.

Alhasil, Para “penyeberang jalan” bermunculan di sudut-sudut jalan di makassar. Mereka tumbuh subur. Dengan harapan mendapatkan uang dari berdiri dan berteriak “maju”,”kiri”,”kiri” sepanjang hari, dan bantuan sedikit kemacetan. Hal inipun dimanfaatkan mereka yang ingin menyeberang. Mereka begitu memuja kecepatan sampai-sampai menyeberang pun ingin cepat-cepat. Maka, saling membuthkanlah para pengendara dan para “penyeberang jalan” ini. Yang satu ingin cepat-cepat dan yang lain ingin uang cepat.

Bagi saya sendiri hal ini membuat saya terpaksa meredefinisi kembali “menyeberangkan jalan” sebagai perbuatan baik dalam kamus daftar perbuatan-perbuatan baik saya. Perbuatan tersebut terpaksa harus saya pindahkan ke dalam bagian “pekerjaan”.

Minggu, 07 Desember 2014

Review : Botchan oleh Natsume Soseki

Saya memilih untuk membaca Botchan karangan Natsume Soseki ini tidak lebih karena pada saat saya meminjam buku ini, masih berdekatan dengan Hari Pendidikan yang baru lewat beberapa hari sebelumnya, sebab buku ini katanya menceritakan tentang seorang guru yang berusaha melawan “sistem” pendidikan pada sebuah desa.  Setelah akhirnya terseok-seok dalam membacanya akibat kegiatan-kegiatan yang tidak terduga dan proses penyelesaian studi yang cukup menyita waktu, tepat hari ini saya menyelesaikan membacanya. 

Botchan sendiri memiliki popularitas yang sangat besar di jepang dan dianggap sebagai salah karya sastra klasik paling populer, setara dengan huckleberry finn atau Oliver Twist bagi pembaca barat (Saya sangat ingin membandingkannya dengan bacaan dari Indonesia, hanya saja rasa-rasanya tidak ada karya Indonesia yang cukup popular yang ditujukan untuk pembaca kanak-kanak semasa saya kecil). Alan Turney penerjemah naskah botchan dari teks aslinya kedalam bahasa inggris, mengatakan ada semacam perasaan nostalgia pada kondisi jepang pada tahun 1800an dan keunikan karakter botchan yang membuat pembaca jepang sampai sekarang masih menggemari buku ini.

Lebih jauh, Gaya penulisan botchan dapat saya katakan sangat “berterus terang”. Penulis sama sekali tidak berusaha membangun kesan misterius untuk membuat pembaca menebak bagaimana akhir kisah dalam buku ini. Tidak ada yang berusaha disembunyikan. Semua disampaikan dengan apa adanya. Hal ini pun berseusaian dengan karakter Botchan sendiri yang merupakan orang yang sangat teguh pendirian dan kelewat polos dan jujur. Sifat apa-adanya dan jujur inilah yang dikemudian hari akan mendatangkan permasalahan padanya. Entah kenapa buku ini memberikan perasaan yang sama ketika saya membaca Toto-chan. 

Ketika kita, sebagai pembaca mengharapakan akan adanya sebuah “masalah besar dan serius” mengenai pendidikan akan dibahas ketika membaca back cover buku ini, hal tersebut sama sekali tidak ada. Namun, kita justru menemukan sebuah permasalahan-permasalahan kecil yang setiap hari kita temui. Terlebih lagi, bagi kawan-kawan pembaca yang ingin menjadi guru nantinya. Sebuah pesan bahwa kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilan luarnya saja semakin kuat seiring saya bersama botchan mengenal semakin dalam karakter-karakter yang ada di dalam cerita. Bahkan disebuah sekolah menengah di sebuah desa, di atas sebuah pulau yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan Tokyo, permainan politik dan saling menjatuhkan bisa saja  terjadi.

Tulisan ini sebenarnya bermaksud memberikan review, tetapi sepertinya saya sudah  membocorkan sedikit tentang botchan,serta karakter-karakter yang ada di dalam cerita ini dan apa yang akan mereka alami. Oleh karena itu, sekian. :P

Selasa, 02 Desember 2014

Remeh temeh tentang rima

Harus saya akui, saya adalah penyembah rima
Tanpa rima, puisi seperti tidak bernyawa
Kurang bermakna
Tiada nuansa

Rima bagi mereka yg malas adalah beban
Mereka malas menjalankan
Membuat mereka tertahan

Ada juga yg menilai rima adalah pemaksaan
Membuat puisi enak didendangkan namun makna dikorbankan

Walaupun begitu. Bagiku rima adalah kebebasan
Puisi semestinya membuat merdeka
Jikalau memang iya maka begitulah
Kalau memang tidak maka tidak jua

Senin, 01 Desember 2014

Denyut denyut malam

Sebab kamu blm jua plg malam ini
Aku kirim debar jntungku
Lewat denyut bumi
Aku membayangkan engkau menatap mataku
Dalam, kau rekatkan tatapanmu
Mencari-cari
Kau coba selami palung mataku
Yang kau bilang lebih dalam dari hati
Apakah aku adalah benar kekasih yg menunggumu kembali
Engkau ciumi setiap centi
Inci demi inci
Sampai aku bernafas melalui hidungmu
Menangis melalui matamu
Berpuisi melalui kalbumu
Aku kekasihmu, selamat malam

Kamis, 27 November 2014

Melampaui Baik dan Buruk/Selamat Hari Pendidikan

Tiga judul berita hari ini yang saya baca di media nasional, lokal, dan intra-kampus tentang pendidikan yaitu masing-masing membahas Masih banyaknya oknum guru yang malas, mahasiswa vs polisi,dan permasalahan dosen plagiat yang kembali diperkerjakan oleh kampus. Ketiga berita ini membuat saya ingin mengeluh kesah mengenai dunia pendidikan(karena cepat atau lambat mungkin saya juga akan menjadi bagian kecil di dalamnya).

Pemilihan judul diatas sengaja memakai dua judul yang pertama “Melampaui Baik dan Buruk” berjudul sama dengan buku karangan Nietzsche namun tidak ada hubungannya sama sekali selain judul, dan judul kedua Selamat hari pendidikan nasional  untuk menyambut hari pendidikan nasional yang ditetapkan pemerintah jatuh pada tanggal 25 november.

Mengenai judul pertama, banyak yang merasa wajah pendidikan indoneisa masih sangat jauh dari layak apalagi membanggakan. Headline Koran-koran lokal beberapa hari ini membahas demonstrasi menyangkut pencambutan subsisid bbm berujung vandalis antara mahasiswa melawan aparat penegak hukum, prof. yang kedapatan pesta sabu dengan mahasiswi, kasus korupsi kampus sampai permasalahan dosen plagiat, dan masih banyk lagi daftar panjang catatan hitam wajah pendidikan Indonesia.

Saya menganggap kita terlalu sering melihat segala sesuatu dalam wilayah baik  melawan buruk, etis melawan tidak etis, bermoral melawan tidak bermoral, putih melawan hitam. Bagi saya, sebuah permasalahan memiliki banyk sekali dimensi-dimensi yang begitu luas. Tengok saja persoalan demonstrasi bbm. Penafsiran mahasiswa, mantan mahasiswa, masayarakat umum, jurnalis, birokrasi, pemerintah, dan banyak elemen- elemen lain di masyarakat pastilah bebeda. Saya merasa tidak perlu membahas masing-masing penafsiran tersebut. Hal yang ingin saya tekankan adalah bagaimana baik dan buruk bukan sesuatu yang bisa dipastikan. Tidak ada sebuah set perangkat lengkap berisi kriteria baik dan buruk.

Jika, tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Pertanyaannya adalah standar manusia yang mana yang akan dipakai? Saya memahami ki hajar dewantara memiliki standar kapan sesorang dikatakan manusia dan pendidikan semestinya mampu menghadirkan manusia tersebut. 

 Berkaitan dengan tujuan pendidikan ini, kencenderungan untuk menilai sesuatu menjadi kalau bukan baik pasti buruk dan/atau sebaliknya perlu dikaji kembali. Dunia pendidikan memilki dimensi yang begitu luas sehingga jika kita mengevaluasi tingkat keberhasilan pendidikan Indonesia tidak cukup hanya dengan clausa Sudah baik atau Masih buruk. Apakah pendidikan sudah menciptakan manusia? Jawabannya menjadi tidak pasti, apakah mereka yang sering turun ke jalan melakukan demonstrasi adalah produk pendidikan yang gagal? apakah ketika mahasiswa terus melakukan demonstrasi lantas guru-guru dan dosen mereka gagal mendidik? Saya tidak akan menjawab demikian. Yang paling penting janganlah kita larut dalam euphoria menilai baik dan buruk lalu mencari kambing hitam untuk dipersalahkan terus menerus.

Senin, 24 November 2014

Bagaimana Entry pada Kamus Dipilih dan Dimasukkan

Pernah tidak terbersit dalam pikiranmu bagaimana kata dalam kamus itu dipilih dan dimasukkan? Kita bisa dengan mudah menemukan kata walk, head, dan sit, tetapi tidak pernah kita temukan kata( semestinya lexeme, untuk sementara saya menggunakan istilah kata saja) walking, walks ,dan heads. Kenapa hal seperti ini terjadi? 
Dari beberapa sumber, ada beberapa hal yang menjadi dasar dalam memilih entry kamus. Dalam tulisan ini tidak akan saya jelaskan kesemuanya karena memang saya tidak tahu semua dasarnya. 

Langsung saja, beberapa kata seperti walks, walking, dan heads yang merupakan hasil proses pembentukan kata (dalam hal ini infleksi) yang tidak perlu dimasukkan ke dalam kamus dengan pertimbangan bahwa makna dari kata tersebut sudah diketahui cukup dengan menyediakan base-nya saja yaitu walk dan head. Pengguna kamus sudah pasti dapat mengetahui apa makna dari kata walks, walking, dan heads cukup dengan pengertian itu. Penyusun kamus menyadari pengetahuan sudah dimiliki pembaca ini sehingga mereka tidak perlu susah-susah menyediakan entry baru untuk kata-kata tersebut (pasti kamus jadi tebal kalau dimasukkan semua kata hasil infleksinya? 

Tetapi ternyata tidak semua kata hasil dari infleksi itu bisa di prediksikan maknanya sehingga tidak perlu dimasukkan dalam kamus. Dalam bahasa inggris, menurut Prof. Harianto selalu ada irregularities, dalam hal ini bentuk irregular juga menjadi pertimbangan bagi penyusun kamus. Misalnya, bentuk plural untuk tooth, child, dan man yaitu teeth, children, dan men bisa ditemukan dalam kamus dan memiliki entry yang terpisah dari base atau rootnya. 

Berikutnya adalah persoalan compound word, penyusun kamus menyadari bahwa bebrapa kata bergabung membentuk kata majemuk yang masing-masing kata itu memberikan sumbangan makna terhadap pembentukan kata baru. Oleh karena itu terkadang kita menemukan kata seperti photographer dalam kamus dan tidak hanya ada kata photo dan graph saja. 

Penyusun kamus juga menyadari adanya idiom. Untuk kamus-kamus yang secara serius memandang semantic idiosyncrasy (keistimewaan/keunikan) sebagai hal yang penting. Terkadang idiom seperti keep tabs on yang berarti ‘memperhatikan dengan cermat’ juga akan dimasukkan dalam kamus walaupun mungkin akan berada satu entry dengan kata tab. 

Hal lain yang juga menjadi pertimbangan adalah adanya bentuk polysemy dan homonymy. Sebagai contoh kata bank yang berarti ‘tempat menyimpan uang” dan kata bank yang berarti “bagian sungai’ yang merupakan homonim memiliki entry yang berbeda karena keduanya memiliki makna yang jauh sekali berbeda. Biasanya di dalam kamus di tulis bank1 dan bank2

Sebaliknya kata head yang berarti ‘bagian tubuh’ dan head yang berarti ‘kepala perusahaan, atau organisais, atau lembaga’ yang merupakan polisemi cuman memiliki satu entry saja. Menurut para ahli bahasa kata head yang berarti ‘kepala perusahaan’ berasal dari kata head yang berarti ‘bagian tubuh’. Seperti kalau kita membuat analogy. Jadi terkadang penyusun kamus membuat entry bedasarkan etymology-nya (asal katanya).

Tetapi menggunakan asal kata sebagai bahan acuan pun ternyata bukan menjadi satu-satunya dasar. Karena beberapa kata seperti pupil yang bisa berarti ‘bagian mata’ dan pupil yang berarti ‘murid’ berasal dari kata yang sama secara historis namun sekarang memilki makna yang jauh sekali berbeda oleh karena itu memiliki entry berbeda pula.

Ternyata tugas menyusun kamus bukan pekerjaan gampang. Ada yang tertarik? J

References:
Kreidler, C.1998.Introducing English Semantics.London:Routledge

Carstaris, A & Mc Carthy.2002.  An Introduction to English Morphology: Words and Their Strucutre. Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd. 

Booij, G.2007.The Gramar ofWords: an Introduction to Linguistic Morphology.New York: Oxford university press inc.

Jumat, 21 November 2014

Infleksi-derivasi (bag. 1)

Beberapa hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan bab mengenai proses pembentukan kata atau word formation.  Andrew Carstaris danMc Carthy dalam introduction to Morphology membagi pembahasan mengenai pembentukan kata dalam dua bab yaitu bab yang membahas mengenai inflection dan bab yang membahas mengenai derivation.  Hampir disaat yang bersamaan, pembahasan mengenai infleksi dan derivasi juga sudah selesai dibahas di kelas (saya mengulang kelas morphology semester ini). 
Saya lanjutkan, pembahasan mengenai derivasi dan infleksi menjadi sangat penting karena nanti pada pembahasan mengenai root, stem, dan base akan dibedakan ketiga terma di atas berdasarkan pada proses pembentukan kata-nya.
Untuk lebih memahamai proses pebentukan cermati contoh berikut. Kata performs, performed, dan performance dalam:

1)     She performs very well
2)     They performed very well last week
3)     The performance is very good

Pada contoh 1) dan 2) kata perform mendapatkan suffix –s, dan –ed menjadi performs dan performed. Proses tersebut terjadi karena adanya pengaruh grammar. Dalam hal ini, contoh 1) terdapt agreement antara 3rd singular person dengan verb ( mudahnya, kalau subjectnya she, he, dan it, kata kerjanya harus ditambah –s  belakangnya). Pada contoh 2) karena pembicara sedang membicarakan kejadian pada waktu lampau maka verb-nya harus dalam bentuk verb2. Proses pembentukan kata inilah yang dikenal sebagai proses inflection.

Berbeda dengan contoh 3), suffix –ance ­tidak memiliki alasan kenapa harus muncul dalam kalimat tersebut. ( tidak ada aturan grammar yang menyatakan bahwa kalau ada kata the maka harus verb-nya ditambahi –ance belakangnya  dll.) kemunculannya lebih disebabkan oleh pilihan pengguna kata tersebut. Andai kemudian kata performance diganti menjadi:

4)     The performer is very good.
atau
5)     The concert is very good.

Juga bisa menjadi kalimat yang benar. Proses inilah yang dikenal dengan sebutan derivation.

Definisi ini saya rasa lebih konsisten dibandingkan definisi traditional yang menyebutkan infleksi adalah proses pembentukan kata yang tidak mengubah kelas kata sedangkan derivasi adalah proses pembentukan kata yang mengubah kelas kata. Karena pada pembahasan mengenai derivasi ternyata ada kata yang oleh linguist dianggap sebagai derivasi namun kelas katanya tidak berubah. Ada juga kata yang bentuknya tidak berubah tetapi kelas katanya berubah(mungkin akan dibahasa pada tulisan lain).

Reference:
Carstaris, A & Mc Carthy.2002.  An Introduction to English Morphology: Words and Their Strucutre. Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd.

Kamis, 20 November 2014

Membedakan Denotasi dan Konotasi Anjing

Ketika ditanyakan kepada kebanyakan siswa maupun mahasiswa untuk membedakan denotasi dan konotasi. Kebanyakan dari mereka mendefinisikan denotasi sebagai makna kamus atau definisi dari yang diambil dari kamus sedangkan konotasi adalah makna kiasan. Saya tidak berusaha mengatakan bahwa hal ini keliru, hanya saja setengah benar.
  
Apakah hanya karena ada di kamus maka sesuatu itu disebut denotasi? Jadi kalau saya jadi pembuat kamus, makna apapun yang saya masukkan ke dalam kamus akan disebut sebagai denotasi? Kalau pembuat kamus tidak asal memasukkan makna ke dalam kamus, lantas hal apa yang mendasari dia memasukkan makna-makna tersebut? 

Selain itu, ketika mendengar kata kiasan, saya selalu mengorientasikannya dengan majas, atau perumpamaan. Berarti yang dimaksudkan sebgai konotasi adalah ungkapan, atau majas. Pulpen yang menari-nari atau gubukku yang sederhana (padahal istana).

Masih banyak sekali pertanyaan saya dari premis di atas. Saya sering sekali berpikir kenapa saya begitu sering menerima mentah-mentah apa yang diberikan oleh guru atau dosen saya. Kenapa jarang sekali saya bersikap kritis untuk mempertanyakan hal-hal yang keliahatannya sepele.

Oke, mari kita lanjutkan.
Seperti yang saya telah sebutkan di atas. Permasalahan denotasi dan konotasi sepertinya tidak sesederhana pikiran saya sebelumnya. Dari definisi makna kamus atau makna kiasan, satu hal yang bisa saya sepakati adalah denotasi dan konotasi adalah masalah pemaknaan. Tetapi untuk mencari tahu apa perbedaan dari keduanya, serta dasar kenapa yang satu dianggap makna denotasi dan yang satu dianggap makna konotasi, mari kita cermati pertanyaan di bawah.
1.     Anjing itu hewan yang mana?
2.     Bagaimana pendapatmu tentang Anjing?

Anjing. (kata benda). Hewan mamalia, karnivora, domestic yang pada umumnya memiliki moncong yang panjang, indera penciuman yang kuat, memiliki cakar yang bisa dimasukkan dan dikeluarkan, dan mengeluarkan suara menggonggong, nyalak, atau merengek ( definisi ini saya ambil dari kamus online oxford dan berbahasa inggris karena saya mahasiswa bahasa inggris :P).

Saya pikir ketika ditanyakan pertanyaan yang sama kepada orang lain di belahan dunia lain, mereka akan menyepakati makna di atas tanpa banyak protes. Dalam hal ini kata Anjing memiliki makna yang secara konvensional disepakati oleh semua orang. Hal inilah yang menjadi dasar bagi pembuat kamus untuk memasukkan makna-makna kata ke dalam kamus.  Dan hal inilah yang dimaksud Makna Denotasi.

Untuk pertanyaan kedua, bagi orang Sulawesi kata Anjing dimaknai sebagai hewan yang najis, suka menggigit, kotor, dan sering sekali kata Anjing dilontarkan oleh orang Sulawesi sebagai penanda kebencian terhadap orang atau hal tertentu. Tetapi, ternyata bagi orang Amerika, anjing bahkan dianggap sebagai salah satu anggota keluarga, dalam film-film Amerika tidak jarang kita melihat karakter utama film itu sangat bersedih ketika anjing piaraannya mati seolah baru saja kehilangan anggota keluarga. Sebagian lagi mengganggap anjing sebagai partner berburu, penarik kereta salju, bahkan makanan. Ternyata orang di Negara-negara lain memiliki pendapat yang berbeda atau definisi berbeda terhadapa kata Anjing dan itu juga benar. Hal inilah yang disebut Konotasi.

Pada kesimpulannya denotasi pada umumnya benar adalah makna yang ada di dalam kamus dan makna konotasi bisa juga dikatakan kiasan. Walaupun ternyata tidak sesederhana itu.

References:
Kreidler, C.1998.Introducing English Semantics.London:Routledge
http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/dog?searchDictCode=all

Minggu, 02 November 2014

Sabtu, 25 Oktober 2014

Anak kecil yg berkejaran di bawah hujan

Layaknya anak kecil yg dilarang bermain hujan
Kita bersedih karena hujan turun
Begitu deras
Aku melihatmu dari jendelaku yg dirintiki hujan
Aku sering mengulurkan tangan keluar jendela berusaha menangkap
menampung sebanyak yg ku bisa
Lalu aku sadar bahwa tangan adalah bendungan yg begitu kecil

Sabtu, 18 Oktober 2014

Bagaimana kami menghabiskan malam minggu

Seperti malam-malam yang sebelumnya
Kamu akan menghabiskan malam ini di beranda
Lalu aku akan menghabiskan malam ini di antara lampu kota

Ini adalah adegan yang berulang
Dalam episode tidak  terhitung

Pada adegan itu aku  lelakimu
Engkau kekasihku
Kita adalah sepasang yang terpisah jarak ribuan
Antara pandangan matamu di beranda dan  aku  di jalan

Hening adalah bahasa yang hanya kita yg mengerti
Jarak hanyalah ilusi
Dan ini dejavu yang berulang lagi

Sperti malam-malam sebelumnya
Aku membawa pulang  rindu
Engkau mengirim senyum dari beranda

Jumat, 10 Oktober 2014

Lelaki yang begitu suka mencintai diam-diam

Coklat matamu adalah tempat paling nyaman untuk kutempati singgah
Kamu mengingatkanku pada orange senja
Hijau daun yang gugur di kepala kita
Jemari kita yang serupa kancing kemeja
Ingatan yang cuman terjadi dikepalaku

Disamping Dh yang ungu
Mataku begitu mencintaimu
Sekalipun aku tahu sedang memupuk sakit
Mencintaimu tidak pernah begitu sulit
Sembari kukumpulkan kata-kataku yang tececer dilantai
Keberanianku yang semakin kelabu
Aku adalah seorang lelaki yang begitu senang mencintai diam-diam

Note: Terinspirasi dari temanku yang suka menyembunyikan perasaan :P

Rabu, 20 Agustus 2014

Tentang Membaca dan Membuang Sampah



KETIDAKGEMARAN MASYARAKAT INDONESIA MEMBACA

Pada tahun 2012 UNESCO mengeluarkan sebuah data mengenai indeks membaca Negara-negara dunia. Data dari UNESCO menunjukkan angka 0,001 artinya dari 1000 orang yang ada di Indonesia hanya 1 orang saja yang gemar membaca.

Kenapa hal ini bisa terjad? Padahal Negara ini dulunya juga merdeka dari mereka yang gemar membaca dan belajar. Bahkan dalam tetralogi pulau buru Pramoedya Ananta Toer, menggambarkan bahwa seorang terpelajar adalah mereka gemar menulis dan membaca.

Sabtu, 15 Februari 2014

Kuburan Kita

Kelak jika kita berpisah
Akan kubuatkan sebuah kuburan dengan nisan  bertuliskan nama kita diatasnya
Di dalamnya kita kubur sebuah foto kita
Sebuah cincin yang mengawinkan tak hanya raga tapi juga batin kita
Dan 1 buahkertas  catatan daftar hal yg pernah kita lakukan bersama-sama
Setiap tahunnya kita akan mengunjungi kuburan itu dua kali
Satu pada tanggal ketika kita memutuskan untuk bersama
Dan satu pada tanggal ketika kita memutuskn untuk berpisah
Akan kusirami kuburan itu dengan puisi-puisi yang terbuat dari air mataku
Lalu kelak di kuburan itu akan tumbuh sebuah bunga
Lalu mereka kemudian akan berkata “bahwa di sini pernah dikubur sepasang kekasih yang mati bersama-sama”

(Makassar,1/17/2014)

Sabtu, 18 Januari 2014

Rumah yang orang-orangnya telah mati


Wahai orang-orang yang dibungkam pemimpin-pemimpin rakus
Apimu telah padam karena tidak diberi makan
Matamu sayup
Mukamu pucat, kamu sakit
Kamu terus-terus saja menundukkan kepala
Mengibaskan ekormu pada majikan yang salah
Menjilati kaki-kaki yang sudah menginjak-injak harga dirimu

Selasa, 14 Januari 2014

Sekali lagi Tentang Hujan


Perkara-perkara yang belum selesai tentang hujan
Tentang kapan hujan akan turun
Tentang kemana hujan akan mengalir
Tentang kapan hujan akan bertemu menjadi genangan-genangan kenanangan
Kenapa hujan membuat kita cengeng
Mudah meluap dan menguap
Sekali lagi tentang hujan
Rintik-rintiknya di atas atap kamarku adalah musik-musik yang menemani anak-anak bermain-main
Diangin-angini oleh angan-angan masa kecilku juga
Aku menguapkan air mata
Bermain-main di bawah hujan juga dan ingin pulang
Sehabis hujan ada aroma yang menguap naik ke ubun-ubunku
Aroma rumput, batu-batu, pepohonan, pohon jatuh, semak belukar
Pematang sawah, aroma padi, burung-burung terbang, aspal basah
Aku rindu kampung halaman sehabis hujan