Minggu, 23 Desember 2012

Sudahkah Mengemis Menjadi Komoditi ?


Mengemis tidak dianjurkan dalam agama Islam. Dalam sejarah islam diriwayatkan bahwa nabi Isa as adalah orang yang paling miskin dan tidak memiliki harta sama sekali kecuali pakaian yang dia gunakan dan sebuah sisir. Beliau  tetap beribadah kepada Allah SWT dan tidak meminta-minta kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Saya kembali teringat kisah itu di sore yang mendung ketika tanpa sengaja  melihat dua orang pemuda memberikan beberapa lembaran  seribu rupiah kepada seorang pengemis di jalan veteran. Pete-pete* yang saya tumpangi sedang menunggu penumpang.  Dengan memakai celana pendek lusuh, jas hujan tipis yang biasa dipakai tukang-tukang becak d hari berhujan. Empat jari tangan sebelah kanannya sepertinya putus atau memang sudah tidak pada tempatnya sejak dia lahir, saya hanya bisa menebak. Menyisakan hanya ibu jari. Tangan kirinya masih utuh dan spertinya berfungsi normal. Yang menarik perhatian saya adalah dia menggunakan sebuah sepeda merah lengkap dengan rem dan tempat minum. Sepeda itu  sendiri spertinya sudah tua. Dia menggantungkan ember di sebelah kanan sepedanya.

Sambil menunggu pete-pete yang saya tumpangi berangkat dimana hanya Tuhan dan sopir itu sendiri yang tahu kapan. Saya menyaksikan dia dari kaca jendela. Dia memindahkan semua uang yang didapatkan dari ember kedalam tas-tas ukuran kecil yang digantungkan di lehernya, jumlah barangkali sekitar sepuluh ribuan, saya hanya bisa menebak. Dengan susah payah dia memasukkan satu per satu lembaran-lembaran uang itu. Bersamaan dengan deruh pete-pete yang berangkat menjauh, menyisakan hanya kepulan asap. Potret pengemis itu mengecil menjadi titik dalam pandangan.
Sudahkah mengemis menjadi sebuah komoditi di masyarakat ? adalah alasan mengapa saya menceritakan kisah tadi. Saya tidak ingin memberikan pandangan subyektif dan menilai kehidupan macam apa yang dimiliki pengemis barusan. Saya tidak memilik hak itu. Tentu saja memberikan uang kepada pengemis bukan sesuatu yang salah secara  norma dan saya yakin juga tidak salah secara agama. Hanya saja menjadi kekhwatiran saya, mengemis menjadi semacam trend di masyarakat kelas bawah untuk mendapatkan uang secara mudah.
Persoalan kemiskinan sangat kompleks. Mengemis adalah hasil dari insting primitif manusia untuk bertahan hidup. Siapa yang perlu disalahkan ? Persoalan kemiskinan sudah seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah bukan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah memelihara orang-orang miskin dan terlantar  disabdakan dengan begitu cantik dalam undang-undang dasar. Kenyataanya Negara ini sudah gagal memenuhi itu sekarang.
Bersamaan dengan kata “sekarang” yang saya tulis di kalimat terakhir Terselip harapan di masa depan. Di negeri utopia nanti tidak ada yang perlu mengemis. Kita akan berjalan dengan kepala tegak bahwa bangsa ini adalah bangsa yang memiliki karakter dan bukan bangsa pengemis. 

*Pete-pete = sebutan untuk Kendaraaan transportasi dalam kota di daerah Sulawesi selatan.

0 komentar:

Posting Komentar