Mengemis tidak
dianjurkan dalam agama Islam. Dalam sejarah islam diriwayatkan bahwa nabi Isa
as adalah orang yang paling miskin dan tidak memiliki harta sama sekali kecuali
pakaian yang dia gunakan dan sebuah sisir. Beliau tetap beribadah kepada Allah SWT dan tidak
meminta-minta kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Saya kembali
teringat kisah itu di sore yang mendung ketika tanpa sengaja melihat dua orang pemuda memberikan beberapa
lembaran seribu rupiah kepada seorang
pengemis di jalan veteran. Pete-pete* yang saya tumpangi sedang menunggu
penumpang. Dengan memakai celana pendek
lusuh, jas hujan tipis yang biasa dipakai tukang-tukang becak d hari berhujan. Empat
jari tangan sebelah kanannya sepertinya putus atau memang sudah tidak pada
tempatnya sejak dia lahir, saya hanya bisa menebak. Menyisakan hanya ibu jari. Tangan
kirinya masih utuh dan spertinya berfungsi normal. Yang menarik perhatian saya
adalah dia menggunakan sebuah sepeda merah lengkap dengan rem dan tempat minum.
Sepeda itu sendiri spertinya sudah tua. Dia
menggantungkan ember di sebelah kanan sepedanya.
Sambil menunggu
pete-pete yang saya tumpangi berangkat dimana hanya Tuhan dan sopir itu sendiri
yang tahu kapan. Saya menyaksikan dia dari kaca jendela. Dia memindahkan semua
uang yang didapatkan dari ember kedalam tas-tas ukuran kecil yang digantungkan
di lehernya, jumlah barangkali sekitar sepuluh ribuan, saya hanya bisa menebak.
Dengan susah payah dia memasukkan satu per satu lembaran-lembaran uang itu. Bersamaan
dengan deruh pete-pete yang berangkat menjauh, menyisakan hanya kepulan asap. Potret
pengemis itu mengecil menjadi titik dalam pandangan.
Sudahkah
mengemis menjadi sebuah komoditi di masyarakat ? adalah alasan mengapa saya
menceritakan kisah tadi. Saya tidak ingin memberikan pandangan subyektif dan
menilai kehidupan macam apa yang dimiliki pengemis barusan. Saya tidak memilik
hak itu. Tentu saja memberikan uang kepada pengemis bukan sesuatu yang salah
secara norma dan saya yakin juga tidak
salah secara agama. Hanya saja menjadi kekhwatiran saya, mengemis menjadi
semacam trend di masyarakat kelas bawah untuk mendapatkan uang secara mudah.
Persoalan kemiskinan
sangat kompleks. Mengemis adalah hasil dari insting primitif manusia untuk
bertahan hidup. Siapa yang perlu disalahkan ? Persoalan kemiskinan sudah seharusnya
menjadi tanggung jawab pemerintah bukan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah
memelihara orang-orang miskin dan terlantar disabdakan dengan begitu cantik dalam
undang-undang dasar. Kenyataanya Negara ini sudah gagal memenuhi itu sekarang.
Bersamaan
dengan kata “sekarang” yang saya tulis di kalimat terakhir Terselip harapan di
masa depan. Di negeri utopia nanti tidak ada yang perlu mengemis. Kita akan
berjalan dengan kepala tegak bahwa bangsa ini adalah bangsa yang memiliki
karakter dan bukan bangsa pengemis.
*Pete-pete = sebutan untuk
Kendaraaan transportasi dalam kota di daerah Sulawesi selatan.

0 komentar:
Posting Komentar