Waktu itu “menyeberangkan jalan” adalah salah satu jawaban favorit saya. Bahkan sewaktu kecil saya sering berkhayal kalau menemukan orang tua yang kesusahan untuk menyeberang. Saya pasti akan langsung membantunya. Begitu heroik rasanya bisa membantu mereka yang sedang kesusahan. Mereka yang suka menyeberangkan orang-orang di jalanan adalah perbuatan mulia menurut saya.
Kota yang semakin berkembang, kendaraan yang semakin padat, jalan yang semakin lebar, membuat orang-orang semakin butuh “penyeberang jalan”. Mereka yang berhati mulia rela menolong sesama, agar selamat menyeberang.
Hari ini semakin banyak mereka yang berprofesi sebagai “penyeberang jalan”. Namun ada yang berbeda, nampaknya hari ini para “penyeberang jalan” tidak lagi Nampak gagah dan heroik seperti anggapan masa kecil saya. Menyeberangkan jalan pun lebih kelihatan seperti pemalakan berkedok membantu. Terkadang para “penyeberang jalan” ini terlihat tidak puas apabila yang diseberangkan tidak memberi tip ala kadarnya.
Mereka adalah orang-orang yang hidup dari kemacetan dan kendaraan yang semakin padat dan laju serta tidak sabar. Kemacetan lebih sering terjadi sekarang, pelebaran jalan sepertinya tidak menyelesaikan masalah. Orang-orang semakin laju dalam berkendara, mereka berprinsip siapa cepat dia lewat. Jalanan bukan lagi menjadi tempat yang memiliki aturan tapi lebih sebagai arena berebut tempat. Tidak ada lagi prinsip saling mappakatabe*. Hal ini dimanfaatkan para “penyeberang jalan” untuk mendapatkan tambahan uang. Bahkan tidak jarang malah dijadikan pekerjaan.
Alhasil, Para “penyeberang jalan” bermunculan di sudut-sudut jalan di makassar. Mereka tumbuh subur. Dengan harapan mendapatkan uang dari berdiri dan berteriak “maju”,”kiri”,”kiri” sepanjang hari, dan bantuan sedikit kemacetan. Hal inipun dimanfaatkan mereka yang ingin menyeberang. Mereka begitu memuja kecepatan sampai-sampai menyeberang pun ingin cepat-cepat. Maka, saling membuthkanlah para pengendara dan para “penyeberang jalan” ini. Yang satu ingin cepat-cepat dan yang lain ingin uang cepat.
Bagi saya sendiri hal ini membuat saya terpaksa meredefinisi kembali “menyeberangkan jalan” sebagai perbuatan baik dalam kamus daftar perbuatan-perbuatan baik saya. Perbuatan tersebut terpaksa harus saya pindahkan ke dalam bagian “pekerjaan”.
