Selasa, 23 Desember 2014

Para Penyeberang Jalan

Saya masih ingat sewaktu kecil, dalam pelajaran budi pekerti (PPKn) sering sekali guru saya bertanya “anak-anak, apa contoh sifat suka menolong?”. Serempak kami menjawab “ “Gotong royong membersihkan jalan”, “menyeberangkan orang tua”, “tidak membuang sampah sembarangan”, “saling menghormati antara pemeluk agama” dan masih banyak variasi jawaban lain dari pertanyaan itu. Sedari kecil kita telah dikenalkan dengan segala macam perbuatan yang termasuk dalam budi pekerti yang baik dan luhur. Lidah kita telah fasih menjawab pertanyaan tersebut.

Waktu itu “menyeberangkan jalan” adalah salah satu jawaban favorit saya. Bahkan sewaktu kecil saya  sering berkhayal kalau menemukan orang tua yang kesusahan untuk menyeberang. Saya pasti akan langsung membantunya. Begitu heroik rasanya bisa membantu mereka yang sedang kesusahan. Mereka yang suka menyeberangkan orang-orang di jalanan adalah perbuatan mulia menurut saya.

Kota yang semakin berkembang, kendaraan yang semakin padat, jalan yang semakin lebar, membuat orang-orang semakin butuh “penyeberang jalan”. Mereka yang berhati mulia rela menolong sesama, agar selamat menyeberang. 

Hari ini semakin banyak mereka yang berprofesi sebagai “penyeberang jalan”. Namun ada yang berbeda, nampaknya hari ini para “penyeberang jalan” tidak lagi Nampak gagah dan heroik seperti anggapan masa kecil saya. Menyeberangkan jalan pun lebih kelihatan seperti pemalakan berkedok membantu. Terkadang para “penyeberang jalan” ini terlihat tidak puas apabila yang diseberangkan tidak memberi tip ala kadarnya.

Mereka adalah orang-orang yang hidup dari kemacetan dan kendaraan yang semakin padat dan laju serta tidak sabar. Kemacetan lebih sering terjadi sekarang, pelebaran jalan sepertinya tidak menyelesaikan masalah. Orang-orang semakin laju dalam berkendara, mereka berprinsip siapa cepat dia lewat. Jalanan bukan lagi menjadi tempat yang memiliki aturan tapi lebih sebagai arena berebut tempat. Tidak ada lagi prinsip saling mappakatabe*. Hal ini dimanfaatkan para “penyeberang jalan” untuk mendapatkan tambahan uang. Bahkan tidak jarang malah dijadikan pekerjaan.

Alhasil, Para “penyeberang jalan” bermunculan di sudut-sudut jalan di makassar. Mereka tumbuh subur. Dengan harapan mendapatkan uang dari berdiri dan berteriak “maju”,”kiri”,”kiri” sepanjang hari, dan bantuan sedikit kemacetan. Hal inipun dimanfaatkan mereka yang ingin menyeberang. Mereka begitu memuja kecepatan sampai-sampai menyeberang pun ingin cepat-cepat. Maka, saling membuthkanlah para pengendara dan para “penyeberang jalan” ini. Yang satu ingin cepat-cepat dan yang lain ingin uang cepat.

Bagi saya sendiri hal ini membuat saya terpaksa meredefinisi kembali “menyeberangkan jalan” sebagai perbuatan baik dalam kamus daftar perbuatan-perbuatan baik saya. Perbuatan tersebut terpaksa harus saya pindahkan ke dalam bagian “pekerjaan”.

Minggu, 07 Desember 2014

Review : Botchan oleh Natsume Soseki

Saya memilih untuk membaca Botchan karangan Natsume Soseki ini tidak lebih karena pada saat saya meminjam buku ini, masih berdekatan dengan Hari Pendidikan yang baru lewat beberapa hari sebelumnya, sebab buku ini katanya menceritakan tentang seorang guru yang berusaha melawan “sistem” pendidikan pada sebuah desa.  Setelah akhirnya terseok-seok dalam membacanya akibat kegiatan-kegiatan yang tidak terduga dan proses penyelesaian studi yang cukup menyita waktu, tepat hari ini saya menyelesaikan membacanya. 

Botchan sendiri memiliki popularitas yang sangat besar di jepang dan dianggap sebagai salah karya sastra klasik paling populer, setara dengan huckleberry finn atau Oliver Twist bagi pembaca barat (Saya sangat ingin membandingkannya dengan bacaan dari Indonesia, hanya saja rasa-rasanya tidak ada karya Indonesia yang cukup popular yang ditujukan untuk pembaca kanak-kanak semasa saya kecil). Alan Turney penerjemah naskah botchan dari teks aslinya kedalam bahasa inggris, mengatakan ada semacam perasaan nostalgia pada kondisi jepang pada tahun 1800an dan keunikan karakter botchan yang membuat pembaca jepang sampai sekarang masih menggemari buku ini.

Lebih jauh, Gaya penulisan botchan dapat saya katakan sangat “berterus terang”. Penulis sama sekali tidak berusaha membangun kesan misterius untuk membuat pembaca menebak bagaimana akhir kisah dalam buku ini. Tidak ada yang berusaha disembunyikan. Semua disampaikan dengan apa adanya. Hal ini pun berseusaian dengan karakter Botchan sendiri yang merupakan orang yang sangat teguh pendirian dan kelewat polos dan jujur. Sifat apa-adanya dan jujur inilah yang dikemudian hari akan mendatangkan permasalahan padanya. Entah kenapa buku ini memberikan perasaan yang sama ketika saya membaca Toto-chan. 

Ketika kita, sebagai pembaca mengharapakan akan adanya sebuah “masalah besar dan serius” mengenai pendidikan akan dibahas ketika membaca back cover buku ini, hal tersebut sama sekali tidak ada. Namun, kita justru menemukan sebuah permasalahan-permasalahan kecil yang setiap hari kita temui. Terlebih lagi, bagi kawan-kawan pembaca yang ingin menjadi guru nantinya. Sebuah pesan bahwa kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilan luarnya saja semakin kuat seiring saya bersama botchan mengenal semakin dalam karakter-karakter yang ada di dalam cerita. Bahkan disebuah sekolah menengah di sebuah desa, di atas sebuah pulau yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan Tokyo, permainan politik dan saling menjatuhkan bisa saja  terjadi.

Tulisan ini sebenarnya bermaksud memberikan review, tetapi sepertinya saya sudah  membocorkan sedikit tentang botchan,serta karakter-karakter yang ada di dalam cerita ini dan apa yang akan mereka alami. Oleh karena itu, sekian. :P

Selasa, 02 Desember 2014

Remeh temeh tentang rima

Harus saya akui, saya adalah penyembah rima
Tanpa rima, puisi seperti tidak bernyawa
Kurang bermakna
Tiada nuansa

Rima bagi mereka yg malas adalah beban
Mereka malas menjalankan
Membuat mereka tertahan

Ada juga yg menilai rima adalah pemaksaan
Membuat puisi enak didendangkan namun makna dikorbankan

Walaupun begitu. Bagiku rima adalah kebebasan
Puisi semestinya membuat merdeka
Jikalau memang iya maka begitulah
Kalau memang tidak maka tidak jua

Senin, 01 Desember 2014

Denyut denyut malam

Sebab kamu blm jua plg malam ini
Aku kirim debar jntungku
Lewat denyut bumi
Aku membayangkan engkau menatap mataku
Dalam, kau rekatkan tatapanmu
Mencari-cari
Kau coba selami palung mataku
Yang kau bilang lebih dalam dari hati
Apakah aku adalah benar kekasih yg menunggumu kembali
Engkau ciumi setiap centi
Inci demi inci
Sampai aku bernafas melalui hidungmu
Menangis melalui matamu
Berpuisi melalui kalbumu
Aku kekasihmu, selamat malam