Minggu, 29 Maret 2015

Sepeda Baru untuk Anak Pak Man

Sulaiman memulai karirnya sebagai penjual beroncong keliling di usia yang sudah begitu tua. Anaknya satu-satunya masih begitu kecil, karena ia terlambat menikah. Dia mendapatkan seorang perawan tua dengan mahar seadanya, yang tidak perlu saya sebutkan barangkali. Sebuah pernikahan yang sederhana dan bersahaja.
Orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Pak Man, dengann K, bukan dengan C. dia sudah mencoba berbagai macam pekerjaan dari menjual batu akik sampai tukang jahit sepatu, kali ini dia memutuskan untuk mencari pekerjaan baru lagi.
Istirnya membantunya menyiapkan kayu bakar untuk di pakai berjualan. Sementara ia menyiapkan adonan kue beroncong yang ia taruh pada ember bekas cat tembok. Gerobak yang ia pakai diberikan oleh teman seperjuangannya sewaktu merantau dulu ke Malaysia yang sekarang beralih profesi menjadi penjual batu Akik. Dari hadiah itulah dia mendapatkan iham menjadi penjual beroncong. 
Dia menarik gerobaknya jauh dari kampungnya sedari pagi, menuju daerah kawasan industri di sebelah utara kampungnya. Ia harus menarik gerobak itu beberapa kilo sebelum akhirnya tiba juga di sana.
“anak istriku butuh makan” pikirnya.
Di hari pertama berjualan, dia memilih perempatan jalan beberapa ratus meter dari pintu masuk kawasan industri, di depan sebuah pabrik besar yang menjual semen. Didepan pabrik itu ada sebuah pohon besar yang cukup rindang. Bahkan sebenarnya, sepanjang jalan kawasan industri tumbuh pohon-pohon jati yang besar dan rimbun. Tentu saja ini menjadi syarat standar hijau bagi sebuah kawasan industri.
Jadi dimanapun sama saja sebenarnya.
Perempatan itu tentu saja dipilih, karena selalu ramai, kendaraan dan pejalan kaki berlalu lalang sepanjang jalan itu. Pekerja-pekerja pabrik datang dari kampung-kampung sekitar pabrik, sebagian besar pekerja tentu saja adalah para buruh, laki-laki perempuan, dan kadang-kadang anak-anak. Walaupun telah ada larangan mempekerjakan anak di bawah umur, tetap saja pabrik-pabrik yang serupa tempat bermain futsal itu tidak juga jerah. Tentu saja karena mereka dibayar lebih murah dan orang tua mereka yang juga memang buruh di sana, membutuhkan uang untuk makan sehari-hari, di korbankanlah masa muda anak-anak itu.
Mereka adalah konsumen- konsumen Pak Man, beberapa orang dari mereka adalah tetangga-tetangga Pak Man sendiri.
Sehari-hari berjualan dilalui dengan susah payah, tanpa ada rintangan yang berarti, dia bertemu dengan banyak penjual-penjual keliling lain yang menjajahkan makanan yang bermacam-macam, kalau dipikir-pikir tempat itu sudah seperti pasar saja, ada banyk pedagang berjualan, dari tukang bakso, nasi kuning, es dawat, bakso tusuk, cimol, bahkan kadang-kadang ada yang menjual batu akik dan bongkahan di sepanjang jalan. Pak Man mulai menyukai pekerjaanya yang tidak mendatangkan duit begitu banyak.
 Pak Man menjalin persahabatan dengan seorang penjual Es Dawat berasala dari Bandung bernama Prasetyo yang juga memilih spot yang sama dengan Pak man,
Prasetyo masih tergolong muda,  dengan wajah khas orang jawa. Saya sendiri tidak bisa menjelaskan bagaiman rupa tipikal orang jawa namun dengan sekali lihat saya dapat membedakan mereka. sehari-hari ia menggunakan topi berwarna hijau hitam, dengan gambar cakar berwarna hijau, ada tulisan monster di topi itu. Sebuah cincin batu terselip di sela jarinya. Ia biasa mengenakan baju kaos lengan panjang dan menggunakan celana jeans murah yang ia beli di pasar malam, celanan itu telah berubah warna menjadi dominan putih akibat terlalu sering dipakai.
“tidak mungkin, si mas menghilangkan langganan-langganan saya, karena dia kan menjual minuman, bukan makanan, malah kalau ada yang beli es, mungkin ada yang tertarik untuk beli beroncong” Pikir pak Man. Ini adalah sebuah kolaborasi yang saling menguntungkan, simbiosis mutualisme namanya. Pak Man tidak tahu apa itu simbiosis mutualisme tentu saja.
“Mas, sudah lama jualan Es mas?” entah kenapa semua orang Jawa di kota itu di panggilnya mas, si penjual Es pun tidak mempermasalahkan itu. 
“baru, mas, baru Setahun,” dengan logat jawanya yang tidak bisa hilang.
“untung banyak mas?” Tanya Pak Man sekedar basa-basi tapi ingin tahu juga.
“lumyanlah mas, bisa dipakai sehari-hari”
Disela-sela melayani pelanggan, mereka berbincang-bincang tentang pelbagai hal, perbincangan paling serius tentu saja tentang batu Akik, mereka saling memperlihatkan batu yang terikat di sela-sela jari mereka dengan nama-nama yang asing bagi narator anda ini.  Terkadang mereka tidak berbincang sama sekali, si Mas asik menelpon dengan entah siapa dalam bahasa jawa. Pak Man sama sekali tidak mengerti.
***
“Siapa yang kasi ijin, kamu jualan di sini,” suatu hari Si penjual beroncong kedatangan tamu di sela-sela pekerjaannya.
“tidak adaji bang, saya orang sudiang ji, di belakng ja’ tinggal” dengan penuh rasa takut Pak Man menjawab,
Seolah menangkap rasa takut Pak Man ini, si tamu tak diharapkan itu melanjutkan.
“Biar juga orang di belakang jaki’ daeng, tapi harus juga tabe’tabe’ “
“iye bang, saya nda’ tahu sama siapa minta izin”
“sekarang sudah tahu kan”
“iya bang”
Si lelaki barangkali adalah Preman Lokal, kaki tangan pemilik-pemilik modal di kawasan. Gaji dia sebagai Preman tidaklah seberapa. Karena itu, dia berusaha mengais sedikit rejeki dari orang-orang yang barangkali lebih sial dari dia,
 Sejak itu, Pak Man harus menyetorkan uang setiap bulannya, jumlahnya memang tidak seberapa, beberapa puluh ribu rupiah saja.  Namun dia berpikir, “pasti untungnya orang ini banyak, karena di kawasan banyak sekali penjual, kalau semuanya menyetor pajak, untungnya pasti banyak”.
Terlepas dari itu Pak Man masih bisa membawa pulang sejumlah uang untuk membeli makanan seadanya, Istrinya, untungnya tidak pernah meminta banyak-banyak, tetapi sering mengeluh juga dia pada suminya tentang keadaan mereka.
Pak Man, telah lama ingin membelikan sepeda bekas kepada anaknya, dia merasa kasihan anak satu-satunya itu tidak memiliki sepeda. Ia kasihan melihat anaknya yang harus berlari-lari kepayahan di belakang temannya yang memiliki sepeda dengan iming-iming akan dipinjamkan sepeda setelahnya. Kadang di pinjamkan lebih sering tidak, tapi anaknya tidak juga berhenti berlari
Beberapa hari itu dia semakin giat bekerja. Dia berjualan di tempat-tempat yang tidak pernah ia jelajahi sebelumnya. Alhasil, penghasilnnya sedikit bertambah dan barangkali dalam beberapa hari lagi berjualan ia akan mampu membelikan anaknya sebuah sepeda baru, tapi  bekas.
Hari itu pagi-pag ia sudah berangkat, ia kembali mengisi tempat yang biasa ia tempati berjualan. Sembari memanaskan tungku pembakarann cetakan beroncong-nya ia duduk disamping gerobaknya sambili mengipasi dirinya dengan handuk. Ia membayangkan wajah anaknya ketika ia pulang membawa sebuah sepeda untuk anak semata wayangnya.
Duarrr !!!
Lamunanya buyar oleh suara hantaman tidak jauh dari tempat ia berjualan, dua buah motor dari arah belawanan baku hantam tepat di tengah perempatan jalan, kedua motor itu berusaha saling menghindar tepat sebelum hantaman terjadi, namun mereka tidak sempat, tabarakan tidak terhindarkan.
Belum sempat Pak Man Sadar dari Suara tabrakan itu, salah satu motor oleng menuju arahnya, selincah kucing Pak Man sempat menghindar. Dia Selamat.
Namun, tidak dengan gerobaknya.
Gerobaknya dalam kondisi mengenaskan, tidak layak operasi, Orang yang menabrak itu dilarikan ke rumah sakit, dia mengalami pendarahan parah di kepala. Sialnya lagi, Pak Man tidak sempat meminta ganti rugi, dia Syok, Bayangan anaknya bersepeda baru buyar dihadapannya.
“Pak Man, tak usah bersedih lah” Si Mas berusaha menghibur.
“Saya punya gerobak bakso di rumah yang tidak dipakai, mungkin Pak Man bisa pakai itu gerobak, kalau mau, mas” ia melanjutkan.
Pak Man berterima kasih pada si Mas, dengan tekad tetap membelikan sepeda baru untuk anaknya. Ia pulang meninggalkan gerobaknya.

Rabu, 11 Maret 2015

Perpisahan adalah bagian pertemuan bukan lawannya

Dia dan kekasihnya kembali rujuk  dan berjanji tidak akan berpisah lagi.

***
semalam ia bertengkar dengan kekasihnya,  Sekarang subuh mengetuk pintu kamarnya. Diluar langit perlahan-lahan benderang, suara kendaraan dan orang-orang pulang sembahyang bagai paduan suara di telinganya. Ia mulai terbangun.

Dia tertidur dalam keadaan menangis. Entah dia tertidur lebih dulu atau berhenti menangis terlebih dulu, keduanya tidak jauh beda bagi dia. Dia tidak pernah menangis seperti ini sejak bapaknya meninggal bertahun silam. Samar-samar dia  mengingat kejadian itu juga. “Mengapa kesedihan-kesedihan saling kait-mengait seolah satu saja kesedihan tidak cukup dan mesti ditumpuk kesedihan lain”, pikirnya. 

Perpisahan mereka kali ini terbilang istimewa. Dia dan kekasihnya sama-sama memilih untuk saling melupakan. Memang semua pertengkaran muda-mudi selalu berakhir dengan kesepakatan serupa, tapi kali ini mereka berdua sama-sama teguh, tidak ada jalan kembali kali ini. Ini adalah perpisahan terakhir.

Lambat laun dia terbangun juga, dunia mulai semakin bising, hari sudah mulai semakin siang. Dia memutuskan tidak kemana-mana hari ini, sebuah hari untuk dirinya sendiri adalah hadiah hiburan yang tepat setelah perpisahan dengan kekasihnya semalam. Telpon  genggamnya telah berdering sedari tadi, teman-temannya mencarinya, baru hari ini dia absen berkuliah. Namun deringnya ia hiraukan. 
Ia belum juga beranjak saat tiba-tiba ia mengingat perpisahanya semalam, linang air mata kekasihnya, amarahnya yang tertahan, menangis juga ia dalam hatinya dan tumpah sesampainya dia di rumah.

Sepotong-sepotong ingatan menghantam dadanya yang sedari tadi masih sesak, hidungnya masih penuh ingus sisa tangisnya. Sepotong hatinya telah kosong, tinggal sebagian lagi yang ia punyai. Ia telah cacat, tidak utuh lagi


“kupikir sepasang kekasih harus bisa saling menerima apa adanya”
“kita bukan lagi anak kecil, kekasih yang tidak ingin berubah juga tidak pantas untuk diperjuangkan” balas kekasihnya sama geramnya. 

Mereka saling memuntahkan racun. 

Dia selalu merasa kekasihnya memiliki kemampuan untuk membuat dirinya merasa bahwa segala macam pertengkaran yang pernah terjadi adalah kesalahannya bukan kekasihnya. Dia mulai berpikir semua perempuan memiliki kemampuan itu. 

“Perempuan semestinya dikategorikan senjata berbahaya” pikirnya.

*** 
Pada malam-malam setelah itu, dia sering bermimpi tentang kekasihnya.
Ia bermimpi, mereka sedang berjalan di sebuah padang yang begitu luas dan hijau. Langit sedikit berawan, hembusan angin begitu lembut menerpa masing-masing wajah mereka. Di tengah-tengah padang tersebut ada sebuah pohon jeruk yang sedang berbuah. Buahnya berwarna orange. Dahan, daun, dan rantingnya membentuk rimbunan yang seolah memanggil mereka untuk berteduh dan memadu kasih di bawahnya. Pohon itu mirip seperti sampul sebuah buku yang dia pernah baca entah dimana.

Ia mendapati dirinya selalu terbangun dalam keadaan basah oleh air mata. Kenangan memang selalu basah. 
Tetapi lama kelamaan mimpi-mimpi itu berganti dengan mimpi-mimpi yang lebih beragam. Dia bahkan memimpikan bapaknya. Dia semakin yakin bahwa kesedihan selalu menjadi kait bagi kesedihan-kesedihan lain. Tapi baginya itu adalah penanda baik. Dia mungkin akhirnya berhasil meninggalkan kekasihnya secara utuh.

Berminggu-minggu setelahnya, dia menghabiskan waktu yang sebagian besar akhirnya kosong karena ketiadaan kekasihnya, dengan membaca ulang beberapa karya Marques, dan kumpulan puisi-puisi Nerudha.  Dia berpikir mereka adalah penulis yang menyukai kehilangan. Karena kehilangan cinta ini, dia harus menjelajah kehidupan para pecinta lain dari dalam rak-rak bukunya untuk menghibur dirinya. 
***

Tetapi waktu selalu berjalan memutar bagi dia.
Entah pada hari keberapa dia dan kekasihnya kembali rujuk dan berjanji tidak akan berpisah lagi.  Dan untuk kali keberapa. 

Meninggalkan kamar Kost Adalah Wisuda

Pada suatu titik, pada akhir masa perkuliahan, saya harus meninggalkan kamar kostku. Mungkin bukan sebuah peristiwa sakral nan genting tetapi bagi saya sangat penting.

Meninggalkan kost mungkin seperti meninggalkan kekasih, seperti meninggalkan kenangan. Seperti laba-laba yang memintal pada sudut-sudut kamar kostku, kenangan terpintal dalam kepalaku.

Saat memindahkan beberapa barang, saya menemukan beberapa benda yang membongkar kembali kotak-kotak memoriku. Mengaitkan ingatan-ingatan. Seperti ampas kopi yang mengendap pada dasar gelas. Perlu adukan agar ingatan terangkat ke permukaan. Perlu sebuah percikan agar api ingatan membakar kepalaku lalu air mata ada untuk memadamkannya walaupun ingatan tidak pernah benar-benar padam, hanya tertidur. 

Saya tidak pernah mau menanggalkan ingatan-ingatan itu, tetapi meninggalkan atau berpisah adalah niscaya. Salah satu karakter dalam Norwegian Wood bikinan Murakami menganggap kehidupan tidak belawanan dengan kematian, dia mengganggap kematian justru adalah bagian dari kehidupan. Seperti itu, saya merasa berpisah bukan lawan dari pertemuan oleh karena itu tidak perlu disesali. 

Setelah melalui sebagian besar fase berkuliah, saya merasa meninggalkan kost adalah manifestasi pendewasaan. Seperti perubahan Super saiyan, sperti mega-evolusi. Belajar hidup sendiri dan mandiri di mulai dari keberanian untuk memutuskan meninggalkan rumah. Dan meninggalkan kost adalah wisudanya. 

Dan layaknya wisuda, saya ingin segera wisuda perjalanan menuju dunia yang baru, dunia yang benar-benar asing sama sekali, dimulai dari situ. Dan Saya tahu wisuda bukan akhir segalanya tapi awal segalanya. (saya belum wisuda).