Kamis, 27 November 2014

Melampaui Baik dan Buruk/Selamat Hari Pendidikan

Tiga judul berita hari ini yang saya baca di media nasional, lokal, dan intra-kampus tentang pendidikan yaitu masing-masing membahas Masih banyaknya oknum guru yang malas, mahasiswa vs polisi,dan permasalahan dosen plagiat yang kembali diperkerjakan oleh kampus. Ketiga berita ini membuat saya ingin mengeluh kesah mengenai dunia pendidikan(karena cepat atau lambat mungkin saya juga akan menjadi bagian kecil di dalamnya).

Pemilihan judul diatas sengaja memakai dua judul yang pertama “Melampaui Baik dan Buruk” berjudul sama dengan buku karangan Nietzsche namun tidak ada hubungannya sama sekali selain judul, dan judul kedua Selamat hari pendidikan nasional  untuk menyambut hari pendidikan nasional yang ditetapkan pemerintah jatuh pada tanggal 25 november.

Mengenai judul pertama, banyak yang merasa wajah pendidikan indoneisa masih sangat jauh dari layak apalagi membanggakan. Headline Koran-koran lokal beberapa hari ini membahas demonstrasi menyangkut pencambutan subsisid bbm berujung vandalis antara mahasiswa melawan aparat penegak hukum, prof. yang kedapatan pesta sabu dengan mahasiswi, kasus korupsi kampus sampai permasalahan dosen plagiat, dan masih banyk lagi daftar panjang catatan hitam wajah pendidikan Indonesia.

Saya menganggap kita terlalu sering melihat segala sesuatu dalam wilayah baik  melawan buruk, etis melawan tidak etis, bermoral melawan tidak bermoral, putih melawan hitam. Bagi saya, sebuah permasalahan memiliki banyk sekali dimensi-dimensi yang begitu luas. Tengok saja persoalan demonstrasi bbm. Penafsiran mahasiswa, mantan mahasiswa, masayarakat umum, jurnalis, birokrasi, pemerintah, dan banyak elemen- elemen lain di masyarakat pastilah bebeda. Saya merasa tidak perlu membahas masing-masing penafsiran tersebut. Hal yang ingin saya tekankan adalah bagaimana baik dan buruk bukan sesuatu yang bisa dipastikan. Tidak ada sebuah set perangkat lengkap berisi kriteria baik dan buruk.

Jika, tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Pertanyaannya adalah standar manusia yang mana yang akan dipakai? Saya memahami ki hajar dewantara memiliki standar kapan sesorang dikatakan manusia dan pendidikan semestinya mampu menghadirkan manusia tersebut. 

 Berkaitan dengan tujuan pendidikan ini, kencenderungan untuk menilai sesuatu menjadi kalau bukan baik pasti buruk dan/atau sebaliknya perlu dikaji kembali. Dunia pendidikan memilki dimensi yang begitu luas sehingga jika kita mengevaluasi tingkat keberhasilan pendidikan Indonesia tidak cukup hanya dengan clausa Sudah baik atau Masih buruk. Apakah pendidikan sudah menciptakan manusia? Jawabannya menjadi tidak pasti, apakah mereka yang sering turun ke jalan melakukan demonstrasi adalah produk pendidikan yang gagal? apakah ketika mahasiswa terus melakukan demonstrasi lantas guru-guru dan dosen mereka gagal mendidik? Saya tidak akan menjawab demikian. Yang paling penting janganlah kita larut dalam euphoria menilai baik dan buruk lalu mencari kambing hitam untuk dipersalahkan terus menerus.

0 komentar:

Posting Komentar