Sabtu, 18 Januari 2014

Rumah yang orang-orangnya telah mati


Wahai orang-orang yang dibungkam pemimpin-pemimpin rakus
Apimu telah padam karena tidak diberi makan
Matamu sayup
Mukamu pucat, kamu sakit
Kamu terus-terus saja menundukkan kepala
Mengibaskan ekormu pada majikan yang salah
Menjilati kaki-kaki yang sudah menginjak-injak harga dirimu

Tumbal telah diberikan
Persembahan telah di ajukan
Perjanjian pun dibatalkan
Harga dirimu telah mati dan dinjak-injak di rumah sendiri
Kamupun terpincang akibat pertempuran sebelumnya
Pertempuran yang sia-sia dan meminta tumbal yang luar biasa
Berujung pada hancurnya hirarki kekuasaan yang pernah jaya begitu lama
Mengais-ngais dan hidup di atas sisa-sisanya

Matamu yang semakin sayup
Mukamu yang semakin redup
Satu-satu kawan seperjuanganmu pun pergi
Hal itu pun dimaklumi
Siapa yang mau tinggal di rumah yang dikuasai penindas
Penerusmu pun gugur sebelum dilahirkan
Mereka durhaka, kafir, tak berdosa, mati sia-sia
kamu pun menjadi nelangsa
tidak berdaya
terkungkung oleh kebebasan yang semu dan maya
kita telah benar-benar musnah


(Kala hujan, 23/12/2013)

0 komentar:

Posting Komentar