KETIDAKGEMARAN MASYARAKAT
INDONESIA MEMBACA
Pada tahun 2012 UNESCO
mengeluarkan sebuah data mengenai indeks membaca Negara-negara dunia. Data dari
UNESCO menunjukkan angka 0,001 artinya dari 1000 orang yang ada di Indonesia
hanya 1 orang saja yang gemar membaca.
Kenapa hal ini bisa terjad? Padahal
Negara ini dulunya juga merdeka dari mereka yang gemar membaca dan belajar.
Bahkan dalam tetralogi pulau buru Pramoedya Ananta Toer, menggambarkan bahwa
seorang terpelajar adalah mereka gemar menulis dan membaca.
. . .
HANYA ANJING YANG BUANG SAMPAH DITEMPAT
INI !!
Tulisan ini sering sekali kita
temukan tercoret di berbagai sudut kota Makassar. Terdapat Berbagai macam
variasi baik dalam hal redaksi tulisan, bentuk, dan tempat. Kalimat ini
mengandung makna yang dengan jelas menyatakan bahwa jikalau ada yang membuang
sampahnya di tempat tersebut maka menurut yang menulis mahkluk apapun itu, ia
sama dengan anjing.
Mari kita analisis kalimat lebih
serius. Dalam Introduction to Semantic, Kreidler
menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan reference, denotasi dan konotasi. Reference menurut Kreidler adalah sebuah
hubungan antara ekspresi berbahasa dengan apapun yang dirujuk oleh pelaku
bahasa dalam sebuah situasi dimana bahasa digunakan, termasuk apa yang ia
bayangkan. Sedangkan denotasi adalah
potensi dari sebuah kata untuk digunakan atau dimasukan ke dalam sebuah
ekspresi bebahasa tersebut. Secara sederhana, reference adalah cara pembicara atau pendengar menggunakan bahasa
(tulisa maupun lisan) secara sukses, sedangkan denotasi adalah pengetahuan yang dimiliki pembicara atau pendengar
yang membuat penggunaan bahasa itu sukses.
Sebagai contoh, kita memahami
kata anjing sebagai mahkluk berkaki empat, makan daging, dan apapun yang kita
bayangkan sebagai anjing. Kata anjing sendiri bisa kita masukkan dalam berbagai
macam ekspresi berbahasa. Sebagai contoh:
Saya sedang
mengajak anjingku berjalan-jalan
Dia memiliki tiga
ekor anjing
Anjing ini jenisnya St.Bernard
HANYA ANJING YANG BUANG SAMPAH DITEMPAT INI
!!
Pengentahuan mengenai penggunaan
kata “Anjing” inilah yang dikenal sebagai denotasi. Tetapi permasalahan
mengenai makna tidak berhenti disitu. Dalam semantik juga dikenal istilah
Konotasi.
Bgaimana pendapatmu mengenai
“anjing”? bagaimana pandangan masyarakat tertentu mengenai anjing? Bangsa
Eskimo menganggap anjing adalah hewan yang menarik kereta salju, Parsees
menganggap anjing adalah hewan yang dikeramatkan, dibagian eropa dan amerika
yang lain, anjing dianggap sebagai partner berburu namun sebagian lainnya
mengganngap anjing hanyalah sebagai piaraan. Inilah yang kita kenal sebagai
konotasi.
Kembali ke ekspresi bahasa di
atas, bagaimana masyrakat Sulawesi selatan, khususnya makassar memberikan
konotasi terhadap kata anjing? Secara jelas, Anjing digambarkan sebagai hewan
yang buruk, hina, dan kotor. Masyarakat Makassar yang mayoritas muslim
mengganggap anjing adalah hewan yang menggandung najis sehingga jangankan
dikonsumsi dipegangpun itu haram.
Sehingga dari proses analisa
diatas, dapat disimpulkan makna dari ekspresi bahasa di atas adalah sebuah
bentuk pemadanan antara anjing yang secara konotasi dianggap buruk oleh
masyrakat Makassar dengan oknum-oknum tertentu yang sering menaruh sampahnya
ditempat tersebut. Hal ini dimaknai pula sebagai sebuah penggambaran prilaku
buruk yang dilakukan oleh oknum tersebut sehingga kata yang bisa dipadankan
dengan prilakunya hanyalah kata “Anjing”.
. . .
Menurut saya kedua permasalahan
yang saya diatas memiliki hubungan yang mendasar. Kesimpulan yang
penulis ambil mengenai kedua fenomena itu adalah bagaimana ketidakgemaran
masyarakat kita membaca sedikit banyak mempengaruhi sikap acuh dan abai
terhadap persoalan-persoalan di sekitar kita.
Prilaku membuang sampah
disembarang tempat masih saja sering kita temukan di kota kita. Sampah
menumpuk, dibuang di sungai, di laut, atau di taruh begitu saja dipinggir
jalan. Mereka sama sekali tidak membaca peringatan mengenai denda larangan
membuang sampah sembarangan, atau sekedar membaca coret-coretan di tembok
seperti “HANYA ANJING YANG BUANG SAMPAH DI TEMPAT INI”. Logikanya bagi
masyarakat Makassar untuk disamakan dengan anjing atau dikatai anjing adalah sebuah
penghinaan tetapi prilaku-prilaku semacam masih juga sering terjadi.
. . .
Seorang teman saya suatu hari
pernah bertanya kepada salah seorang dosen di kampus saya.
“bagaimana kalau saya tidak suka
membaca pak?”
“tidak ada jalan lain selain
membaca” kata beliau.

0 komentar:
Posting Komentar