Pernah ada seorang teman yang
bertanya .
“andaikan kamu adalah direktur sebuah perusahaan besar, maukah kamu
menerima pelamar kerja yang hanya menggunakan kaos oblong, sandal jepit, dan
celana robek-robek ketika melakukan wawancara kerja?”
Dan pada saat itu saya menjawab.
“yah, tentu saja akan saya terima kalau dia berkualifikasi pada
pekerjaannya”
Penulis menggunakan istilah
berkualitas baik untuk menyebut kata cerdas, sopan, santun, baik dan kata-kata
lain yang sepadan secara bersamaan atau secara terpisah. hal ini dimaksudkan
agar tulisan dapat dimaknai secara umum dan tidak spesifik pada sifat atau kualitas
tertentu.
Pakaian, penampilan, dan
pembawaan adalah hal-hal yang menentukan penilaian seseorang terhadap karakter
individu. Pandangan pertama menentukan
segalanya itu kata mereka. Secara
otomatis kita akan menilai orang yang pendiam, rapi, memakai kaca mata tebal,
dan introvert sebagai kutu buku walaupun bukan tanpa alasan tapi penilaian
semacam ini bukan ilmu pasti. Asumsi-asumsi dan cap yang kita berikan kepada
seseorang merupakan produk dari penginderaan kita terhadap sekitar dan tayangan yang kita saksikan di televisi.
Suka atau tidak hal ini membentuk pola pikir dan cap kita terhadap pribadi
seseorang.
Model pendidikan yang mewajibkan
siswa atau mahasiswa untuk berpakaian “rapi” juga turut membuat stigma
“kerapian” melekat erat dalam benak orang-orang. Orang yang berkualitas baik
adalah orang yang menjaga penampilannya tetap
rapi berdasarkan standar kerapaian yang ada di masyarakat. Pendapat ini
tidak salah namun tidak sepenuhnya benar.
Dengan kata lain, penampilan yang rapi tidak menunjukkan bahwa seseorang
itu berkualitas baik. Tetapi penampilan yang rapi memberikan pandangan awal
bahwa seseorang itu punya kualitas baik. Dengan berpenampilan rapi seseorang
bisa berpura-pura cerdas atau berpura-pura terpelajar. Saya sendiri tidak
melihat ini sebagai kutukan ataupun sebuah berkah. Tapi tentu sja penampilan
bisa menipu. Kualitas tidak semata-mata ditunjukkan oleh tampilan yang sedap.
Permasalahan di atas meninggalkan
kita dua pilihan. Pilihan pertama yaitu kita bisa memperkuat pandangan masyarakat
bahwa kita adalah orang yang berkualitas baik dengan berpenampilan rapi. Yang
kedua kita bisa memutarbalikkan pandangan masyarakat bahwa ternyata kita adalah
orang yang berkualitas baik dengan berpenampilan serampangan. Karena menjadi
orang yang tidak berkualitas baik itu bukan sebuah pilihan.

0 komentar:
Posting Komentar