Sabtu, 30 Maret 2013

Rapi atau tidak Rapi



Pernah ada seorang teman yang bertanya .
andaikan kamu adalah direktur sebuah perusahaan besar, maukah kamu menerima pelamar kerja yang hanya menggunakan kaos oblong, sandal jepit, dan celana robek-robek ketika melakukan wawancara kerja?”

Dan pada saat itu saya menjawab.

“yah, tentu saja akan saya terima kalau dia berkualifikasi pada pekerjaannya”

Penulis menggunakan istilah berkualitas baik untuk menyebut kata cerdas, sopan, santun, baik dan kata-kata lain yang sepadan secara bersamaan atau secara terpisah. hal ini dimaksudkan agar tulisan dapat dimaknai secara umum dan tidak spesifik pada sifat atau kualitas tertentu.
Pakaian, penampilan, dan pembawaan adalah hal-hal yang menentukan penilaian seseorang terhadap karakter individu. Pandangan pertama menentukan segalanya  itu kata mereka. Secara otomatis kita akan menilai orang yang pendiam, rapi, memakai kaca mata tebal, dan introvert sebagai kutu buku walaupun bukan tanpa alasan tapi penilaian semacam ini bukan ilmu pasti. Asumsi-asumsi dan cap yang kita berikan kepada seseorang merupakan produk dari penginderaan kita terhadap sekitar  dan tayangan yang kita saksikan di televisi. Suka atau tidak hal ini membentuk pola pikir dan cap kita terhadap pribadi seseorang.

Model pendidikan yang mewajibkan siswa atau mahasiswa untuk berpakaian “rapi” juga turut membuat stigma “kerapian” melekat erat dalam benak orang-orang. Orang yang berkualitas baik adalah orang yang menjaga penampilannya tetap  rapi berdasarkan standar kerapaian yang ada di masyarakat. Pendapat ini tidak salah namun tidak sepenuhnya benar.  Dengan kata lain, penampilan yang rapi tidak menunjukkan bahwa seseorang itu berkualitas baik. Tetapi penampilan yang rapi memberikan pandangan awal bahwa seseorang itu punya kualitas baik. Dengan berpenampilan rapi seseorang bisa berpura-pura cerdas atau berpura-pura terpelajar. Saya sendiri tidak melihat ini sebagai kutukan ataupun sebuah berkah. Tapi tentu sja penampilan bisa menipu. Kualitas tidak semata-mata ditunjukkan oleh tampilan yang sedap. 

Permasalahan di atas meninggalkan kita dua pilihan. Pilihan pertama yaitu kita bisa memperkuat pandangan masyarakat bahwa kita adalah orang yang berkualitas baik dengan berpenampilan rapi. Yang kedua kita bisa memutarbalikkan pandangan masyarakat bahwa ternyata kita adalah orang yang berkualitas baik dengan berpenampilan serampangan. Karena menjadi orang yang tidak berkualitas baik itu bukan sebuah pilihan.

0 komentar:

Posting Komentar