***
semalam ia bertengkar dengan
kekasihnya, Sekarang subuh mengetuk pintu
kamarnya. Diluar langit perlahan-lahan benderang, suara kendaraan dan orang-orang
pulang sembahyang bagai paduan suara di telinganya. Ia mulai terbangun.
Dia tertidur dalam keadaan menangis. Entah
dia tertidur lebih dulu atau berhenti menangis terlebih dulu, keduanya tidak
jauh beda bagi dia. Dia tidak pernah menangis seperti ini sejak bapaknya
meninggal bertahun silam. Samar-samar dia
mengingat kejadian itu juga. “Mengapa kesedihan-kesedihan saling kait-mengait
seolah satu saja kesedihan tidak cukup dan mesti ditumpuk kesedihan lain”,
pikirnya.
Perpisahan mereka kali ini terbilang istimewa.
Dia dan kekasihnya sama-sama memilih untuk saling melupakan. Memang semua
pertengkaran muda-mudi selalu berakhir dengan kesepakatan serupa, tapi kali ini
mereka berdua sama-sama teguh, tidak ada jalan kembali kali ini. Ini adalah
perpisahan terakhir.
Lambat laun dia terbangun juga, dunia mulai
semakin bising, hari sudah mulai semakin siang. Dia memutuskan tidak kemana-mana
hari ini, sebuah hari untuk dirinya sendiri adalah hadiah hiburan yang tepat
setelah perpisahan dengan kekasihnya semalam. Telpon genggamnya telah berdering sedari tadi,
teman-temannya mencarinya, baru hari ini dia absen berkuliah. Namun deringnya
ia hiraukan.
Ia belum juga beranjak saat tiba-tiba ia
mengingat perpisahanya semalam, linang air mata kekasihnya, amarahnya yang
tertahan, menangis juga ia dalam hatinya dan tumpah sesampainya dia di rumah.
Sepotong-sepotong ingatan menghantam
dadanya yang sedari tadi masih sesak, hidungnya masih penuh ingus sisa tangisnya.
Sepotong hatinya telah kosong, tinggal sebagian lagi yang ia punyai. Ia telah
cacat, tidak utuh lagi
“kupikir sepasang kekasih harus bisa saling menerima apa adanya”
“kita bukan lagi anak kecil, kekasih yang
tidak ingin berubah juga tidak pantas untuk diperjuangkan” balas kekasihnya sama
geramnya.
Mereka saling memuntahkan racun.
Dia selalu merasa kekasihnya memiliki kemampuan untuk membuat dirinya merasa bahwa segala macam pertengkaran yang pernah terjadi adalah kesalahannya bukan kekasihnya. Dia mulai berpikir semua perempuan memiliki kemampuan itu.
“Perempuan semestinya dikategorikan senjata
berbahaya” pikirnya.
***
Pada malam-malam setelah itu, dia sering bermimpi tentang kekasihnya.
Ia bermimpi, mereka sedang berjalan di
sebuah padang yang begitu luas dan hijau. Langit sedikit berawan, hembusan
angin begitu lembut menerpa masing-masing wajah mereka. Di tengah-tengah padang
tersebut ada sebuah pohon jeruk yang sedang berbuah. Buahnya berwarna orange.
Dahan, daun, dan rantingnya membentuk rimbunan yang seolah memanggil mereka
untuk berteduh dan memadu kasih di bawahnya. Pohon itu mirip seperti sampul
sebuah buku yang dia pernah baca entah dimana.
Ia mendapati dirinya selalu terbangun dalam
keadaan basah oleh air mata. Kenangan memang selalu basah.
Tetapi lama kelamaan mimpi-mimpi itu
berganti dengan mimpi-mimpi yang lebih beragam. Dia bahkan memimpikan bapaknya.
Dia semakin yakin bahwa kesedihan selalu menjadi kait bagi kesedihan-kesedihan
lain. Tapi baginya itu adalah penanda baik. Dia mungkin akhirnya berhasil meninggalkan
kekasihnya secara utuh.
Berminggu-minggu setelahnya, dia
menghabiskan waktu yang sebagian besar akhirnya kosong karena ketiadaan
kekasihnya, dengan membaca ulang beberapa karya Marques, dan kumpulan puisi-puisi Nerudha. Dia berpikir mereka
adalah penulis yang menyukai kehilangan. Karena kehilangan cinta ini, dia harus
menjelajah kehidupan para pecinta lain dari dalam rak-rak bukunya untuk
menghibur dirinya.
***
Tetapi waktu selalu berjalan memutar bagi
dia.
Entah pada hari keberapa dia dan kekasihnya
kembali rujuk dan berjanji tidak akan berpisah lagi. Dan untuk kali keberapa.

0 komentar:
Posting Komentar