Rabu, 11 Maret 2015

Perpisahan adalah bagian pertemuan bukan lawannya

Dia dan kekasihnya kembali rujuk  dan berjanji tidak akan berpisah lagi.

***
semalam ia bertengkar dengan kekasihnya,  Sekarang subuh mengetuk pintu kamarnya. Diluar langit perlahan-lahan benderang, suara kendaraan dan orang-orang pulang sembahyang bagai paduan suara di telinganya. Ia mulai terbangun.

Dia tertidur dalam keadaan menangis. Entah dia tertidur lebih dulu atau berhenti menangis terlebih dulu, keduanya tidak jauh beda bagi dia. Dia tidak pernah menangis seperti ini sejak bapaknya meninggal bertahun silam. Samar-samar dia  mengingat kejadian itu juga. “Mengapa kesedihan-kesedihan saling kait-mengait seolah satu saja kesedihan tidak cukup dan mesti ditumpuk kesedihan lain”, pikirnya. 

Perpisahan mereka kali ini terbilang istimewa. Dia dan kekasihnya sama-sama memilih untuk saling melupakan. Memang semua pertengkaran muda-mudi selalu berakhir dengan kesepakatan serupa, tapi kali ini mereka berdua sama-sama teguh, tidak ada jalan kembali kali ini. Ini adalah perpisahan terakhir.

Lambat laun dia terbangun juga, dunia mulai semakin bising, hari sudah mulai semakin siang. Dia memutuskan tidak kemana-mana hari ini, sebuah hari untuk dirinya sendiri adalah hadiah hiburan yang tepat setelah perpisahan dengan kekasihnya semalam. Telpon  genggamnya telah berdering sedari tadi, teman-temannya mencarinya, baru hari ini dia absen berkuliah. Namun deringnya ia hiraukan. 
Ia belum juga beranjak saat tiba-tiba ia mengingat perpisahanya semalam, linang air mata kekasihnya, amarahnya yang tertahan, menangis juga ia dalam hatinya dan tumpah sesampainya dia di rumah.

Sepotong-sepotong ingatan menghantam dadanya yang sedari tadi masih sesak, hidungnya masih penuh ingus sisa tangisnya. Sepotong hatinya telah kosong, tinggal sebagian lagi yang ia punyai. Ia telah cacat, tidak utuh lagi


“kupikir sepasang kekasih harus bisa saling menerima apa adanya”
“kita bukan lagi anak kecil, kekasih yang tidak ingin berubah juga tidak pantas untuk diperjuangkan” balas kekasihnya sama geramnya. 

Mereka saling memuntahkan racun. 

Dia selalu merasa kekasihnya memiliki kemampuan untuk membuat dirinya merasa bahwa segala macam pertengkaran yang pernah terjadi adalah kesalahannya bukan kekasihnya. Dia mulai berpikir semua perempuan memiliki kemampuan itu. 

“Perempuan semestinya dikategorikan senjata berbahaya” pikirnya.

*** 
Pada malam-malam setelah itu, dia sering bermimpi tentang kekasihnya.
Ia bermimpi, mereka sedang berjalan di sebuah padang yang begitu luas dan hijau. Langit sedikit berawan, hembusan angin begitu lembut menerpa masing-masing wajah mereka. Di tengah-tengah padang tersebut ada sebuah pohon jeruk yang sedang berbuah. Buahnya berwarna orange. Dahan, daun, dan rantingnya membentuk rimbunan yang seolah memanggil mereka untuk berteduh dan memadu kasih di bawahnya. Pohon itu mirip seperti sampul sebuah buku yang dia pernah baca entah dimana.

Ia mendapati dirinya selalu terbangun dalam keadaan basah oleh air mata. Kenangan memang selalu basah. 
Tetapi lama kelamaan mimpi-mimpi itu berganti dengan mimpi-mimpi yang lebih beragam. Dia bahkan memimpikan bapaknya. Dia semakin yakin bahwa kesedihan selalu menjadi kait bagi kesedihan-kesedihan lain. Tapi baginya itu adalah penanda baik. Dia mungkin akhirnya berhasil meninggalkan kekasihnya secara utuh.

Berminggu-minggu setelahnya, dia menghabiskan waktu yang sebagian besar akhirnya kosong karena ketiadaan kekasihnya, dengan membaca ulang beberapa karya Marques, dan kumpulan puisi-puisi Nerudha.  Dia berpikir mereka adalah penulis yang menyukai kehilangan. Karena kehilangan cinta ini, dia harus menjelajah kehidupan para pecinta lain dari dalam rak-rak bukunya untuk menghibur dirinya. 
***

Tetapi waktu selalu berjalan memutar bagi dia.
Entah pada hari keberapa dia dan kekasihnya kembali rujuk dan berjanji tidak akan berpisah lagi.  Dan untuk kali keberapa. 

0 komentar:

Posting Komentar