Rabu, 11 Maret 2015

Meninggalkan kamar Kost Adalah Wisuda

Pada suatu titik, pada akhir masa perkuliahan, saya harus meninggalkan kamar kostku. Mungkin bukan sebuah peristiwa sakral nan genting tetapi bagi saya sangat penting.

Meninggalkan kost mungkin seperti meninggalkan kekasih, seperti meninggalkan kenangan. Seperti laba-laba yang memintal pada sudut-sudut kamar kostku, kenangan terpintal dalam kepalaku.

Saat memindahkan beberapa barang, saya menemukan beberapa benda yang membongkar kembali kotak-kotak memoriku. Mengaitkan ingatan-ingatan. Seperti ampas kopi yang mengendap pada dasar gelas. Perlu adukan agar ingatan terangkat ke permukaan. Perlu sebuah percikan agar api ingatan membakar kepalaku lalu air mata ada untuk memadamkannya walaupun ingatan tidak pernah benar-benar padam, hanya tertidur. 

Saya tidak pernah mau menanggalkan ingatan-ingatan itu, tetapi meninggalkan atau berpisah adalah niscaya. Salah satu karakter dalam Norwegian Wood bikinan Murakami menganggap kehidupan tidak belawanan dengan kematian, dia mengganggap kematian justru adalah bagian dari kehidupan. Seperti itu, saya merasa berpisah bukan lawan dari pertemuan oleh karena itu tidak perlu disesali. 

Setelah melalui sebagian besar fase berkuliah, saya merasa meninggalkan kost adalah manifestasi pendewasaan. Seperti perubahan Super saiyan, sperti mega-evolusi. Belajar hidup sendiri dan mandiri di mulai dari keberanian untuk memutuskan meninggalkan rumah. Dan meninggalkan kost adalah wisudanya. 

Dan layaknya wisuda, saya ingin segera wisuda perjalanan menuju dunia yang baru, dunia yang benar-benar asing sama sekali, dimulai dari situ. Dan Saya tahu wisuda bukan akhir segalanya tapi awal segalanya. (saya belum wisuda).

0 komentar:

Posting Komentar