Aku ingin bercerita sedikit
tentang bapakku. Terakhir aku melihatnya, dia berumur sekitar 50-an sebelum dia
meninggalkan kami. Waktu itu ibuku sangat sedih. Seperti ada separuh nyawa yang
ditarik dari tubuhnya. Dan dia berusaha keras mempertahankan sebagian lagi
nyawanya agar bisa menemani kami. Aku dan kakakku. Dia menangis seharian penuh.
“Kamu tidak
akan melihat bapakmu lagi nak, kamu yang
sabar yah” kata ibuku sambil menangis.
Bapakku adalah orang baik. Sewaktu
aku masih kecil, dia akhir minggu dia selalu mengajakku berkeliling kampung. Yah
cuman sekedar berjalan-jalan. Kami biasanya naik Honda astrea 800 hitam putih
milik bapakku. Motor itu sudah tua sekali, dia beli sewaktu masih kuliah dan
masih dia gunakan sampai dia menjadi guru SMA.
“bu, aku kangen sama bapak bu,
kenapa di harus pergi ?” kata kakakku suatu hari.
“kamu ngomong apa ini sudah 2 tahun lebih, kamu harus ikhlas nak” kata
ibu. Aku bisa melihat kesedihan di matanya sekeras apapun dia berusaha menutupi
tapi aku tahu dialah yang paling bersedih.
Hal yang paling kuingat dari dia
barangkali adalah betapa seringnya kami bertengkar memperebutkan remote TV. Kamu
tahu Waktu itu, kartun jam 3 sore sampai jam 8 malam yang disiarkan di Lativi (sekarang Stasiun TV ini sudah
tidak beroperasi lagi )adalah keharusan untuk dilihat buat anak-anak sepertiku.
Dan ujung-ujungnya bapakku lebih sering mengalah dan segera mengambil Qur’an
atau Buku bacaan sekedar untuk menghabiskan waktu sampai tiba siaran berita
tengah malam di TVRI.
“kamu itu sangat mirip bapakmu nak, pendiam tapi keras kepala” pernah
ibuku berkata.
Barangkali terakhir aku berdiri di sini adalah setahun lalu. Aku ingin
mengucapkan salam perpisahan entah untuk ke berapa kalinya. Kau tahu, aku
percaya rindu bisa menjelma cahaya, sehingga ketika semakin kuat rindu itu akan
semakin berkilau cahayanya. Dan cahaya rinduku pasti akan sampai surga.

0 komentar:
Posting Komentar