Sabtu, 29 Desember 2012

Bapak


Aku ingin bercerita sedikit tentang bapakku. Terakhir aku melihatnya, dia berumur sekitar 50-an sebelum dia meninggalkan kami. Waktu itu ibuku sangat sedih. Seperti ada separuh nyawa yang ditarik dari tubuhnya. Dan dia berusaha keras mempertahankan sebagian lagi nyawanya agar bisa menemani kami. Aku dan kakakku.  Dia menangis seharian penuh.
“Kamu tidak akan melihat bapakmu  lagi nak, kamu yang sabar yah” kata ibuku sambil menangis.

Bapakku adalah orang baik. Sewaktu aku masih kecil, dia akhir minggu dia selalu mengajakku berkeliling kampung. Yah cuman sekedar berjalan-jalan. Kami biasanya naik Honda astrea 800 hitam putih milik bapakku. Motor itu sudah tua sekali, dia beli sewaktu masih kuliah dan masih dia gunakan sampai dia menjadi guru SMA.
“bu,  aku kangen sama bapak bu, kenapa di harus pergi ?” kata kakakku suatu hari.
“kamu ngomong apa ini sudah 2 tahun lebih, kamu harus ikhlas nak” kata ibu. Aku bisa melihat kesedihan di matanya sekeras apapun dia berusaha menutupi tapi aku tahu dialah yang paling bersedih.


 Hal yang paling kuingat dari dia barangkali adalah betapa seringnya kami bertengkar memperebutkan remote TV. Kamu tahu Waktu itu, kartun jam 3 sore sampai jam 8 malam yang disiarkan di Lativi (sekarang Stasiun TV ini sudah tidak beroperasi lagi )adalah keharusan untuk dilihat buat anak-anak sepertiku. Dan ujung-ujungnya bapakku lebih sering mengalah dan segera mengambil Qur’an atau Buku bacaan sekedar untuk menghabiskan waktu sampai tiba siaran berita tengah malam di TVRI.

“kamu itu sangat mirip bapakmu nak, pendiam tapi keras kepala” pernah ibuku berkata.

Barangkali terakhir aku berdiri di sini adalah setahun lalu. Aku ingin mengucapkan salam perpisahan entah untuk ke berapa kalinya. Kau tahu, aku percaya rindu bisa menjelma cahaya, sehingga ketika semakin kuat rindu itu akan semakin berkilau cahayanya. Dan cahaya rinduku pasti akan sampai surga.



0 komentar:

Posting Komentar