Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika saya menyebut
kata “Gondrong” ? Seramkah ? berbaju serba kehitamankah ? ataukah sosok tampan yang
siap memesona semua wanita ? barangkali bukan yang disebutkan belakangan.
Dalam term istilah bugis kata “gondrong” mengacu kepada
laki-laki yang memiliki rambut panjang melebihi batas normal dari standar
rambut untuk laki-laki yang umumnya ada di masyarakat bugis(sekitar 2-5 cm). masyarakat bugis atau masyrakat indonesia juga umumnya
menganut anggapan ini. Bahwa seorang laki-laki yang berambut panjang itu
diidentikkan dengan seorang preman, tukang palak, penjahat, dan masih banyak
lagi yang tida sanggup saya sebutkan di sini.
Tulisan ini bukan ditujukan untuk menjadi pembelaan diri
karena saya berambut panjang (mungkin sedikit membela juga). Tapi lebih kepada
berusaha mengangkat fenomena ini agar tidak terjadi pendiskriminasiaan terhadap
laki-laki yang berniat memanjangkan rambut mereka.
Ketika saya sebut kata diskriminasi diatas. Yah ini benar-benar
kadang terjadi, “gondrong” dianggap tidak capable, orang dungu yang hanya tahu
cara memalak, mereka yang selalu bolos pada jam-jam kuliah mereka. Hal ini
tidak sepenuhnya benar. Banyak orang-orang berambut “gondrong” juga berprestasi
(yang tidak gondrong juga bnyakji prestasinya, ka populasi mereka lebih banyak
daripada kami ) tapi tidak usah disebutkan disini. Anggapan-anggapan semacam
ini harus dihilangkan dari benak kebanyakan orang. Toh, ini hanya permasalahan relativisme budaya(budaya itu berbeda-beda bergantung kepada wilayah budaya tersebut berada), di belahan dunia lain hal seperti tidak menjadi persoalan. Bahkan contoh
paling extreme sekalipun dikisahkan bahwa Rasulullah memiliki rambut yang
menyentuh bahu (yah, bisa dibilang “gondrong” juga mngkin). Mozart, issac
newton, Sultan Hasanuddin, hanya bisa disebutkan beberapa, adalah sosok yang
tampil khas dengan rambutnya yang panjang.

0 komentar:
Posting Komentar