Selasa, 30 Oktober 2012

Gondrong : Sebuah Fenomena Sosial

Tuesdaya October 30, 2012


Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika saya menyebut kata “Gondrong” ? Seramkah ? berbaju serba kehitamankah ? ataukah sosok tampan yang siap memesona semua wanita ? barangkali bukan yang disebutkan belakangan.

Dalam term istilah bugis kata “gondrong” mengacu kepada laki-laki yang memiliki rambut panjang melebihi batas normal dari standar rambut untuk laki-laki yang umumnya ada di masyarakat bugis(sekitar 2-5 cm). masyarakat  bugis atau masyrakat indonesia juga umumnya menganut anggapan ini. Bahwa seorang laki-laki yang berambut panjang itu diidentikkan dengan seorang preman, tukang palak, penjahat, dan masih banyak lagi yang tida sanggup saya sebutkan di sini.


Tulisan ini bukan ditujukan untuk menjadi pembelaan diri karena saya berambut panjang (mungkin sedikit membela juga). Tapi lebih kepada berusaha mengangkat fenomena ini agar tidak terjadi pendiskriminasiaan terhadap laki-laki yang berniat memanjangkan rambut mereka.

Ketika saya sebut kata diskriminasi diatas. Yah ini benar-benar kadang terjadi, “gondrong” dianggap tidak capable, orang dungu yang hanya tahu cara memalak, mereka yang selalu bolos pada jam-jam kuliah mereka. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Banyak orang-orang berambut “gondrong” juga berprestasi (yang tidak gondrong juga bnyakji prestasinya, ka populasi mereka lebih banyak daripada kami ) tapi tidak usah disebutkan disini. Anggapan-anggapan semacam ini harus dihilangkan dari benak kebanyakan orang. Toh, ini hanya permasalahan relativisme budaya(budaya itu berbeda-beda bergantung kepada wilayah budaya tersebut berada), di belahan dunia lain hal seperti tidak menjadi persoalan. Bahkan contoh paling extreme sekalipun dikisahkan bahwa Rasulullah memiliki rambut yang menyentuh bahu (yah, bisa dibilang “gondrong” juga mngkin). Mozart, issac newton, Sultan Hasanuddin, hanya bisa disebutkan beberapa, adalah sosok yang tampil khas dengan rambutnya yang panjang.

0 komentar:

Posting Komentar